Masyarakat Krisis Air Bersih Bertambah Jadi 736.492 Jiwa

Infografis jumlah masyarakat terdampak kekeringan di sembilan kabupaten/kota di NTB hingga 16 September lalu. (Sumber : BPBD NTB)

Mataram (Suara NTB) – Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD NTB mendapatkan laporan dari kabupaten/kota bahwa kekeringan semakin meluas. Sampai 16 September 2020, jumlah masyarakat krisis air bersih akibat bencana kekeringan sebanyak 206.875 KK atau 736.492 jiwa, yang tersebar di 9 kabupaten/kota, 77 kecamatan dan 257 desa/kelurahan.

‘’Yang bertambah (masyarakat terdampak kekeringan) itu di Kabupaten Bima,’’ ujar Kasi Penyelamatan dan Evakuasi Bidang Kedaruratan BPBD NTB, Ibrahim Kurniawan dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 20 September 2020.

Iklan

Jumlah masyarakat terdampak kekeringan di Lombok Barat sebanyak 32.255 jiwa atau 8.064 KK, tersebar di 6 kecamatan di 28 desa. Di Lombok Tengah sebanyak 273.622 jiwa atau 69.294 KK, tersebar di 8 kecamatan di 83 desa.

Kemudian di Lombok Timur sebanyak 199.171 jiwa atau 65.764 KK, tersebar di 15 kecamatan di 82 desa. Selanjutnya, Lombok Utara sebanyak 26.036 jiwa atau 8.661 KK, yang tersebar di 5 kecamatan di 19 desa.

Selain itu, di Sumbawa Barat sebanyak 10.302 jiwa atau 2.716 KK, yang tersebar di 3 kecamatan di 13 desa. Sumbawa sebanyak 80.765 jiwa atau 20.189 KK, tersebar di 17 kecamatan di 42 desa.

Selanjutnya, Dompu sebanyak 51.577 jiwa atau 16.936 KK, yang tersebar di 8 kecamatan di 34 desa. Kota Bima sebanyak 22.989 jiwa atau 7.416 KK tersebar di 5 kecamatan di 18 desa dan Bima sebanyak 39.175 jiwa atau 7.835 KK, tersebar 10 kecamatan di 36 desa.

Ibrahim mengatakan, rata-rata kondisi masyarakat terdampak kekeringan hampir sama di sembilan kabupaten/kota terdampak. Mereka mengalami krisis air bersih. ‘’Karena curah hujan relatif ndak ada kecuali Mataram atau sebagian Gerung Lombok Barat yang kemarin ada hujan,’’ katanya.

Namun untuk kabupaten/kota lainnya, terutama di Pulau Sumbawa, rata-rata belum pernah turun hujan selama beberapa bulan terakhir. Informasi yang diperoleh dari BMKG dalam rakor beberapa waktu lalu, untuk wilayah Pulau Lombok, hujan diperkirakan mulai turun pada bulan November. Sedangkan untuk wilayah Pulau Sumbawa, diperkirakan pada Desember.

Untuk distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak, kata Ibrahim, saat ini sedang dilakukan BPBD kabupaten/kota. BPBD NTB juga telah mengoperasikan mobil tangki air bersih ke Lombok Timur dan Lombok Tengah untuk memback up distribusi air bersih.

Sebagaimana diketahui, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc menetapkan status NTB siaga darurat kekeringan. Penetapan status siaga darurat kekeringan tersebut sesuai SK Gubernur No.360-607 Tahun 2020, yang mulai berlaku 14 Juli sampai dengan 31 November 2020.

Selain itu, sembilan kabupaten/kota juga sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan lewat keputusan kepala daerah setempat. Yaitu, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Kota Bima dan Bima. (nas)