Masyarakat Batu Nampar Selatan Mulai Alami Krisis Air Bersih

Selong (Suara NTB) – Memasuki musim kemarau tahun 2018, krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat di Desa Batu Nampar Selatan Kecamatan Jerowaru. Desa yang berada di ujung selatan Kabupaten Lotim diketahui sudah melayangkan surat ke BPBD Lotim perihal permohonan pendistribusian air bersih.

Kepada Suara NTB, Sabtu, 12 Mei 2018, Kepala Bidang Urusan Logistik dan BPBD Lotim, Lalu Rusnan, membenarkan permintaan air bersih yang dilayangkan oleh Pemerintah Desa Batu Nampar Selatan. Surat permohonan untuk disalurkan air bersih dilayangkan pada hari Sabtu lalu. Desa Batu Nampar Selatan, katanya, merupakan satu-satunya desa yang sudah melayangkan surat untuk didistribusikan air bersih. “Baru Desa Batu Nampar Selatan yang bersurat ke kami, (BPBD, red) terkait permintaan air bersih. Dan sudah kami respons,” terangnya.

Iklan

Dijelaskannya bahwa setiap tahun masyarakat di Kabupaten Lotim terutama di wilayah-wilayah tertentu secara rutin mengalami krisis air bersih. Untuk itu, pihak dari BPBD Lotim sudah siaga untuk mengantisipasi hal demikian dan bergerak apabila ada permintaan dari masyarakat. “Ini memang suatu yang rutin terjadi,” sebutnya.

Lalu Rusnan menambahkan, BPBD Lotim masih menunggu daerah-daerah lain yang melayangkan permintaan. Menurutnya, untuk pendropan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan, harus menunggu permintaan mulai dari jumlah yang didropkan karena dalam surat permintaan akan dilihat kebutuhannya.

Khusus untuk di Desa Batu Nampar Selatan, merupakan desa yang memang setiap tahun langganan krisis air bersih. Akan tetapi, di wilayah itu sudah dibangunkan sebanyak dua sumur bor, sehingga diprediksi permintaan tidak terlalu banyak karena ada dialirkan melalui pipanisasi. “Di sana kita sudah bangunkan dua sumur bor, termasuk di Ekas Buana maupun di beberapa desa lainnya di Lotim yang rawan krisis air bersih,”jelasnya.

Untuk menangani krisis air bersih, pihaknya sudah melakukan langkah antisipasi seperti menyiagakan personel, alat-alat dan lain sebagainya. Adapun untuk wilayah yang terdampak kekeringan selama tiga tahun terakhir yakni mulai dari tahun 2016 bahwa jumlah kecamatan yang terdampak kekeringan sebanyak 12 kecamatan, kemudian tahun 2017 menjadi 9 kecamatan dan pada akhir tahun 2017 memasuki 2018 terus berkurang menjadi 7 kecamatan.

Terus berkurangnya wilayah terdampak kekeringan karena pemerintah sudah membangun bak penampung terhadap titik-titik yang menjadi sumber mata air, kemudian dialirkan menggunakan pipanisasi ke pemukiman penduduk. Sehingga di wilayah itu tidak lagi didropkan air bersih.
Selanjutnya, yang menjadi lokasi keberadaan air bawah tanah dengan melibatkan dinas terkait dengan melakukan survei geoslistrik, maka dibangunkan sumur bor.

Adapun 7 kecamatan yang masih terdampak mengalami kekeringan di tahun 2018, yakni Kecamatan Jerowaru, Keruak, Sakra Barat, Sakra, Pringgabaya, Terara dan Masbagik sebagian. Untuk musim kemarau sendiri diprediksi pada bulan November. “Jumlah kecamatan terdampak kekeringan terus akan kita kurangi dengan mencari sumber-sumber air dan kita alirkan ke masyarakat,”ujarnya. (yon)