Masuki Kemarau, Debit Air BK I Menyusut

Nampak lahan di Kecamatan Taliwang yang mulai kekurangan air. Kondisi ini tak terlepas dari kritisnya debit air Bendungan Kalimantong I. Saat ini debit air hanya 30 centimeter dan diproyeksikan hanya mampu mengairi 600 hektar dari luas tanam yang mencapai 1.430 hektar.(Suara NTB/ils)

Taliwang (Suara NTB) – Pengamat perairan wilayah Taliwang, Abdul Hadi, mengatakan dampak masuknya musim kemarau sudah mulai dirasakan. Sebab kondisi debit air Bendungan Kalimantong I mulai mengalami fase kritis. Bahkan saat ini debit air hanya mencapai 30 centimeter yang diproyeksikan hanya mampu mengairi 600 hektar dari luas tanam yang mencapai 1.430 hektar.

“Memang dalam dua minggu terakhir sudah tidak ada hujan yang berdampak pada debit air yang terus menurun setiap harinya. Bahkan puncak musim kemarau sendiri diprediksi sekitar bulan Agustus mendatang sehingga sisa lahan yang belum terakomodir terancam gagal tanam,” ungkapnya kepada Suara NTB, Rabu, 10 Juni 2020.

Iklan

Berdasarkan prediksi BMKG, intensitas hujan mulai berkurang di pertengahan bulan Juni dan puncaknya di bulan Agustus sudah tidak terjadi hujan.  Parahnya lagi cuaca panas yang terjadi saat ini dianggap paling ekstrem dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meskipun untuk saat ini masih bisa tertangani karena air di Bendungan masih tersedia. Tetapi jika tidak masuk puncak musim kemarau  maka pihaknya khawatir akan banyak lahan yang gagal tanam dan gagal panen karena bencana tersebut.

“Kami khawatir musim kemarau tahun ini akan berlangsung panjang dan jika itu terjadi maka banyak petani yang gagal tanam dan panen nantinya,” timpalnya.

Guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan di lapangan, pihaknya mulai memberlakukan  sistem pembagian air dengan melibatkan P3A. Hal itu dilakukan dengan harapan semua area tanam bisa mendapatkan air dan tidak mengalami gagal tanam. Selain itu, pihaknya juga  menghimbau agar petani tidak melakukan penyemaian benih terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan, karena belum ada tanda-tanda hujan akan turun. Jika dipaksakan tetap akan dilakukan penyemaian benih, dikhawatirkan tidak akan tumbuh normal karena hujan yang belum turun.

“Tunggu ada hujan dulu baru lakukan penyemaian benih, jika tetap dipaksakan dikhawatirkan benih tidak tumbuh dan rusak begitu. Kami juga akan melakukan pembagian air secara adil dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan,” pungkasnya. (ils)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional