Masuk Paket JPS Gemilang, Permintaan Gula Semut Naik Signifikan

H. Mustaan. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Petani aren bersemangat, didukung program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang, Pemprov NTB. Permintaan gula semut naik signifikan dari biasanya. Produsen gula semut menambah jumlah produksi dari para produsen gula semut. Untuk pendistribusian tahap kedua, gula semut kebagian 5.000 pcs dalam paket JPS Gemilang. Penjualan yang tadinya hanya 500 Kg/bulan, naik menjadi 1,5 ton bulan kemarin.

“Untuk saat ini kita sedang tambah kapasitas produksi. Kebutuhan sedang mendesak, salah satunya persiapan dari JPS Gemilang,” kata Ketua Asosiasi Aren Indonesia (AAI) Provinsi NTB, H. Mustaan. Produsen menambah personel produksi dengan meningkatkan peran-peran anggota kelompok. Dari sebelumnya yang ditampung hanya 20 petani aren, jika memungkinkan bisa bertambah menjadi 30 petani bisa ditampung hasil produksinya.

Iklan

“Kita usahakan gula yang masuk bukan yang dibeli jadi. Tapi diproduksi dari air nira lokal. Agar efeknya lebih besar dinikmati petani,” ujarnya. H. Mustaan sudah minim menerima pesanan gula semut dari luar daerah, apalagi luar negeri. Dalam situasi berat ini, para petani aren terbantu dengan program JPS Gemilang yang menyerap hasil-hasil produksi petani aren.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah menurutnya telah memberikan peluang kepada para petani gula aren melalui program JPS Gemilang. Menurutnya, peningkatan produksi tidak saja terjadi karena adanya program ini di masa pandemi Covid-19. Kedepan, AAI masih optimis pasar gula merah semut akan semakin terbuka di daerah sendiri.

Alasan H. Mustaan, Peraturan Gubernur (Pergub) yang akan diterbitkan mengakomodir gula merah sebagai kebutuhan konsumsi gula di tingkat pemerintah provinsi. Untuk sajian minuman, gula pasir bisa digantikan dengan gula merah. Atau setidaknya gula merah bisa diakomodir menjadi substitusi gula pasir meskipun tak seratus persen. “Pergub tentang produk lokal ini kita harapkan terbit, gula merah nantinya bisa menjadi pengganti gula kopi atau minuman-minuman manis lainnya. Lebih sehat bahkan,” kata H. Mustaan.

Kepada Suara NTB di Mataram, Selasa, 16 Juni 2020, H. Mustaan berharap banyak kepada hotel dan restoran menggunakan minuman dengan gula semut hasil produksi petani aren lokal. Harapannya, sektor pariwisata bangkit, agar pasarnya kembali terbuka. Sementara ini, ritel modern juga cukup membantu para petani aren tetap eksis berproduksi.

Bila semua potensi pasar ini terbuka, para petani aren di Kekait, Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat menargetkan produksi dan penjualan gula semut sampai 22,5 ton sebulan. “Dari JPS Gemilang ini sudah terukur sekali produksi gula semut para petani. Inipun masih yang di Gunungsari, belum di tempat-tempat lainnya. Karena itu kami sangat yakin, bila semua pasar terbuka oleh kebijakan daerah, produksi kita bisa lebih 20 ton sebulan,” demikian H. Mustaan. (bul)