Masuk 10 Besar Nasional, Kasus DBD di Lobar Jadi Sorotan Kemenkes

H. Fauzan Khalid. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Barat (Lobar) masuk dalam urutan 10 besar kabupaten/kota  dengan kasus  Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di seluruh Indonesia. Kondisi inipun menjadi sorotan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Bahkan Kemenkes menurunkan tim ke Lobar.

Hal itu diakui langsung oleh Bupati Lobar H. Fauzan Khalid dalam gelaran rapat pimpinan (rapim) II yang digelar di Aula Kantor Bupati Lobar, Kamis, 4 Maret 2021.

Iklan

Menurut bupati, tingginya kasus DBD di Kabupaten Lobar disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah kesalahan persepsi di masyarakat terkait penyakit DBD yang identik dengan tindakan fogging. “Kita sering salah persepsi soal DBD yang selalu diidentikkan dengan fogging, padahal fogging hanya membunuh nyamuk, tidak membunuh jentik nyamuk,” ujarnya.

Diakuinya, fogging sangat efektif membutuh nyamuk. Namun itu hanya bisa bertahan selama dua hari. Ia pun menyarankan agar tidak ada air yang sampai menggenang di lingkungan rumah. “Saya harap ini disampaikan ke masyarakat. Covid-19 tetap jadi perhatian kita, tapi jangan mengabaikan yang lain. Dinas PMD (Pemerintahan Masyarakat Desa) juga perlu menindaklanjuti ke kepala desa dan koordinasi dengan Dikes terkait apa yang dilakukan untuk antisipasi DBD tersebut,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Lobar drg. Hj. Ni Made Ambaryati membenarkan apa yang disampaikan Bupati Lobar tersebut. Menurut dia, pemberian peringkat tersebut dilihat dari tren kasus sejak dalam tiga tahun terakhir yakni dimulai tahun 2018, tahun 2019 dan tahun 2020. “Yang tertinggi kasus DBD kita ada di Kecamatan Gerung, kemudian Kuripan dan Kediri,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang diperoleh, sejak tahun 2018 terjadi peningkatan kasus yang sangat luar biasa di Kabupaten Lobar. Di tahun 2018 lalu jumlah kasus DBD di Lobar hanya 48 kasus, kemudian di tahun 2019 naik menjadi 229 kasus. Parahnya, di tahun 2020 peningkatan kasus begitu tinggi, yakni mencapai angka 1.608 kasus. “Penyebabnya adalah sanitasi kita yang masih buruk, untuk itu saran dan imbauan Pak Bupati untuk gotong royong perlu digalakkan lagi seperti Jumat Bersih,” tegasnya.

Ditanya soal jumlah penderita DBD yang meninggal dunia, Ambaryati mengatakan bahwa sejak tahun 2018 hingga tahun 2020 jumlah penderita DBD yang meninggal dunia sebanyak 2 orang. Penderita yang meninggal berasal dari Kecamatan Gerung.” Di awal tahun 2021, sudah ada dua korban yang meninggal dunia,” tegasnya.(her)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional