Maskawin Unik Tak Hanya Bisa Dilihat dari Permukaan saja

Sosiolog dari Universitas Mataram (Unram), Azhari Evendi, S.Sos., MA.,

Mataram (Suara NTB) — Pernikahan dengan maskawin unik yang terjadi di Lombok tidak cukup hanya dilihat dari peristiwa permukaan saja. Ada hal lain di belakang layar kejadian itu yang tidak diketahui masyarakat. Selain itu, pengaruh perkembangan teknologi juga jadi salah satu yang mempengaruhi viralnya fenomena tersebut.

Sosiolog dari Universitas Mataram (Unram), Azhari Evendi, S.Sos., MA., menjelaskan, dalam sosiologi, ada teori dramaturgi. Tindakan seseorang dibagi berdasarkan yang muncul di depan panggung atau front stage dan yang muncul di belakang panggung atau back stage. Menurutnya, kalau dianalisa secara sosiologis, semua perilaku itu rasional.

Iklan

“Jika dilakukan berdasarkan cinta yang murni berarti itu rasionalitas yang didorong oleh afektif atau perasaan cinta. Namun kalau ada uang pisuke, peristiwa itu hanya panggung depan saja, sementara di panggung belakang ternyata banyak sekali biaya yang dibayar,” ujarnya.

Terkait peristiwa maskawin unik itu, ia menjelaskan, aturan pernikahan tradisional di Lombok, tidak hanya menyangkut proses resmi menikah atau akad saja. Dalam proses menikah itu bisa disebut sebagai panggung depan seperti dalam teori dramaturgi tadi. Maskawin unik itu muncul di depan. Namun di belakang pernikahan yang tampak di permukaan itu, ada juga yang disebut uang pisuke dalam tradisi pernikahan di Lombok.
“Proses pisuke ini yang tidak terlihat sebenarnya. Sebenarnya yang perlu dikonfirmasi, berapa di luar maskawin Rp1000 itu, apakah ada uang pisuke antara pihak laki dan perempuan,” ujarnya.

Jika ada uang pisuke, berarti yang hanya terlihat berupa maskawin unik itu, hanya panggung depan saja. Namun panggung belakang, juga perlu dilihat. Sedangkan, kalau memang tidak ada pisuke, berarti peristiwa maskawin itu merupakan peristiwa di luar kebudayaan atau tradisi yang sudah diatur.

Viralnya fenomena maskawin unik ini, menurutnya dipengaruhi juga oleh perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 saat ini. Terutama pesatnya perkembangan media sosial. Apalagi terjadinya pandemi Covid-19 yang membuat teknologi atau media sosial semakin melekat di masyarakat.

Media sosial sangat mempengaruhi mana saja informasi yang bisa menjadi trending. Padahal peristiwa maskawin yang unik atau relatif murah itu sebenarnya sudah banyak terjadi dan merupakan fenomena biasa.

“Kita sudah berada di era digital, mempengaruhi mana yang trending, atau yang dimunculkan. Sebenarnya yang tidak trending itu juga banyak, bisa jadi fenomena biasa, tapi karena era digital seolah jadi luar biasa, karena mana peristiwa yang trending yang dimunculkan,” ujar dosen di Program Studi (Prodi) Sosiologi Unram.

Media sosial juga berpengaruh di kalangan anak muda, bahkan menjadikan media sosial sebagai referensi. Begitu peristiwa maskawin unik itu muncul, yang terlihat hanya panggung depan dari peristiwa itu saja, panggung belakangnya tidak kelihatan.

Apalagi, kata Azhari, di masa pandemi Covid-19 ini masyarakat membutuhkan hiburan untuk menghilangkan stres. Dengan adanya berita atau peristiwa maskawin unik itu seolah jadi pangggung hiburan tersendiri di masyarakat. “Begitu muncul jadi hiburan tersendiri yang menghilangkan stres,” ujarnya.

Disamping itu, ia juga mengatakan, bisa jadi ada kenginan orang untuk memviralkan peristiwa itu. Sebelumnya peristiwa maskawin unik dan murah biasa terjadi, tapi seseorang mempublikasikannya sehingga menjadi viral.

Di dalam konteks revolusi industri 4.0, aktor-aktor yang ada di masyarakat tidak lagi fokus pada nilai-nilai yang sudah berjalan lama. Dalam proses pembentukan identitas itu munculah me center society atau masyarakat yang berpusat ke kedirian.

“Sehingga bisa jadi juga motif itu, membuat berita ini jadi viral, karena memang interaksi kita dibatasi, hiburan kita tidak begitu beragam, sehingga menjadi menarik. Apalagi rentetannya satu peristiwa dengan peristiwa lain berdekatan, seolah-olah membuat masyarakat menyaksikan seri pernikahan yang unik,” kata Azhari yang juga Ketua Laboratorium Sosiologi Unram ini.

Ketika satu peristiwa sudah viral, membuat orang lain mengikutinya. Azhari menjelaskan, dalam proses interaksi, ada juga proses imitasi atau meniru. “Tidak terlepas (ada kemungkinan) dari perilaku seperti itu,” katanya. (ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here