Masih Tinggi, Penggunaan Boraks di NTB

Praya (Suara NTB) – Penggunaan bahan pengawet berupa boraks pada produk makanan lokal di NTB dan Pulau Lombok pada khususnya, diakui masih cukup tinggi. Penggunaan ini banyak ditemukan pada produk makanan rumahan berupa kerupuk.

Hal itu diungkapkan Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram, Dra. Ni Gusti Ayu Nengah Suartiningsih, Apk., pada Suara NTB, Kamis, 11 Mei 2017.

Iklan

Diakuinya, penggunaan boraks pada produk kerupuk cukup sulit diatasi. Selain karena tingkat pengetahuan masyarakat yang masih rendah tentang bahaya boraks, produk pengganti yang bisa menggantikan fungsi boraks pada makanan kerupuk, sejauh ini belum ada.

Untuk itu, masyarakat masih cukup sulit meninggalkan boraks sebagai bahan tambahan pada makanan kerupuk, mengingat, boraks bisa membuat kerupuk menjadi lebih tahan lama serta renyah. “Inilah yang saat ini terus kita sosialisasikan tentang bahaya boraks kepada masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya tengah berupaya mencarikan bahan pengganti borax yang jauh lebih aman dan bisa dikonsumsi dan bisa digunakan oleh masyarakat untuk bahan tambahan kerupuk.

Terkait penggunaan formalin, Suartiningsih mengaku sejauh ini sudah bisa dikatakan tidak ada lagi. Awalnya, formalin banyak ditemukan di produk tahu. Tetapi sekarang, bisa dikatakan produk tahu di Lombok aman dari bahan pengawet formalin.

Meski demikian, pengawasan tetap dilakukan secara intensif dengan mendatangi sentra-sentra produksi makanan lokal yang ada secara berkala. Sembari memberikan pembinaan dan bimbingan tentang tata cara memproduksi makanan yang sehat dan bebas bahan pengawet. “Tapi memang tidak semuanya bisa disentuh. Mengingat kita juga terkendala anggaran dan tenaga,” imbuhnya. (kir)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional