Masih Tinggal di Tenda Pengungsian, Korban Gempa di Lotim Menjerit

Kepala Desa Tete Batu,  Azidi (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Masyarakat korban gempa di Desa Tete Batu Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur (Lotim)  mulai menjerit. Pasalnya, ratusan masyarakat masih berada di tenda-tenda pengungsian pasca terjadinya gempa beruntun beberapa waktu lalu. Masyarakat yang rumahnya hancur membutuhkan hunian sementara (huntara), karena hujan sudah turun.

Kepada Suara NTB, Senin,  12 November 2018, Kepala Desa Tete Batu, Azidi, mengaku, kondisi di Desa Tete Batu cukup memprihatinkan. Masyarakat masih banyak bertahan di bawah tenda-tenda pengungsian akibat rumahnya hancur diguncang gempa. Alasan masyarakat bertahan di tenda pengungsian lantaran rumahnya hancur serta terbatasnya huntara. Jumlah huntara yang terbangun di desa yang terletak di bawah kaki Gunung Rinjani ini sangat sedikit, sehingga masyarakat masih banyak tidur di bawah tenda terpal.

Iklan

Azidi mengaku, selaku kepala desa meminta kepada pemerintah untuk secepatnya mendistribusikan bantuan untuk korban gempa, yakni sebesar Rp50 juta untuk rusak berat, Rp 25 juta rusak sedang dan Rp10 juta untuk rusak ringan. “Terpenting saat ini kita butuh hunian sementara, hunian yang layak sebagai tempat masyarakat kita berteduh sementara,” ujarnya.

Dibutuhkannya huntara tersebut dikarenakan curah hujan di Desa Tete Batu cukup signifikan. Bahkan selama sepekan terkadang hujan tak kunjung berhenti. Untuk itu, huntara sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebelum masyarakat terserang penyakit akibat bertahan di tenda-tenda pengungsian.

Adapun berdasarkan pendataan kerusakan dampak gempa yang dilakukan oleh Pemkab Lotim, untuk kerusakan akibat gempa di Desa Tete Batu sebanyak 500 lebih bangunan terbagi dalam rusak berat sebanyak 200 rumah, sisanya masuk dalam rusak sedang dan ringan. Selain rumah, sejumlah tempat ibadah dan fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. (yon)