Masih Sangat Tergantung Eksportir Luar NTB

Ari Aditya. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Keinginan daerah agar para pelaku usaha lokal menjadi eksportir mandiri saat ini nampaknya belum dapat dijawab. Ketergantungan terhadap eksportir luar masih besar. Banyak faktor kenapa demikian. Suara NTB berdiskusi dengan Ari Aditya, pemilik Lombok Natural.

Ari selama ini boleh dibilang pelaku usaha besar, sekaligus eksportir. Ia cukup intens memasok hasil-hasil kerajinan buah kering ke sejumlah negara dibelahan dunia. Namun sejak corona, permintaan dari luar negeri turun drastis. Hampir di semua jenis kebutuhan. Serangan virus corona yang menggempur dunia dampaknya dirasakan secara global.

Iklan

Sejak awal tahun 2020 lalu, dan sudah memasuki tahun kedua. Keadaan ini menurut Ari Aditya mengakibatkan berkurangnya  pembelian langsung para buyer dari luar negeri. Mereka tidak bisa datang, mencari kebutuhannya. Lalu menggunakan alternatif memilih dan berbelanja secara online. Dalam empat bulan terakhir, terlihat peningkatan permintaan untuk kerajinan kayu dan bambu dari buyer Amerika Serikat.

Namun buyer luar negeri ini enggan membeli langsung kepada para pelakunya (produsen). Kata Ari, mereka lebih senang berbelanja dari trader besar yang ada di Jakarta, Jogja, dan Surabaya dan Bali. Para eksportir besar yang mendapat pesanan ini yang kemudian berkomunikasi dengan produsennya. “Empat bulan terakhir, permintaan dari Amerika Serikat cukup tinggi. Mereka minta langsung ke perusahaan trading di Jakarta, Jogja, Surabaya. Termasuk Bali. Dan Alhamdulillah, kita di Lombok kebagian permintaan itu. Ini seperti oase di tengah corona,” katanya.

Karena tingginya permintaan dari Amerika Serikat ini, bahkan salah satu perusahaan trader yang diketahuinya di Jogja, dalam sebulan bisa dikirim 30 kontainer hasil kerajinan yang sudah dibelinya dari berbagai daerah di Indonesia. Para perajin dari Lombok menurutnya sangat terbantu oleh trader luar ini, apalagi dalam keadaan ini. Pengusaha kerajinan di Lombok kecipratan pesanan dari nilai ratusan juta, bahkan sampai miliaran, kata Ari. Beberapa jenis kerajinan yang diminta misalnya keranjang  dan kerajinan-kerajinan lainnya dari bambu dan rotan.

Dengan hanya menjual hasil kerajinan lokal antar daerah, Ari tak menampikkan, produk yang terkirim ke Amerika Serikat tidak lagi atas nama NTB. Melainkan atas nama daerah dimana produk-produk tersebut diekspor. Untuk menjadi trader yang yang direct langsung ke buyer luar negeri, lanjut Ari Aditya, menurutnya tidak mudah. Buyer luar negeri membutuhkan mitra yang dipercaya di Indonesia.

Sebagai pemain besar, buyer luar negeri ini juga membutuhkan garansi pesanannya. Dibutuhkan trader yang memiliki kredibilitas, memiliki modal besar. Apalagi pembayaran pesanan bisa sampai empat bulanan. “Nah, karena permintaan mereka besar dan bayarnya lama. Butuh trader besar yang modalnya kuat. Ini yang belum ada di NTB. dan tidak segampang itu buyer besar beli langsung ke UKM,” demikian Ari. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional