Masa Pandemi, Pembelajaran di Sekolah Harus Penuhi Banyak Syarat

Suasana simulasi pembelajaran tatap muka di SMAN 1 Mataram, pekan lalu.  (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) –  Simulasi pembelajaran tatap muka terbatas di jenjang SMA, SMK, dan SLB di masa pandemi Covid-19 sebagai upaya mempersiapkan sekolah membuka pembelajaran tatap muka. Namun, persiapan untuk membuka pembelajaran tatap muka tidak cukup hanya menerapkan protokol kesehatan di sekolah. Ada berbagai syarat pendukung yang mesti dipenuhi.

Ketua PGRI NTB, Yusuf pada Jumat, 25 September 2020 mengatakan pihaknya memandang sebenarnya simulasi yang dilakukan oleh Dikbud NTB untuk menguji integritas para kepala satuan pendidikan apakah instrumen yang telah diisi sudah sesuai dengan kenyataan atau fakta di lapangan. Di samping itu, banyak hal yang harus disiapkan, di antaranya satuan pendidikan memiliki data peta warga satuan pendidikan yang tidak boleh melakukan kegiatan dan memiliki kondisi medis comorbid atau penyakit bawaan yang tidak terkontrol.

Iklan

“Lalu bagaimana dengan data warga satuan pendidikan tidak memiliki akses transportasi yang memungkinkan penerapan jaga jarak, siap yang mengantar atau siapa yang menjemput, siswa tersebut pulang dengan siapa?” tanyanya.

Selain itu,  ia menekankan, setiap sekoah wajib memiliki data warga satuan pendidikan yang memiliki riwayat kontak dengan orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri selama 14 hari. Salah satu yang wajib dilakukan sekolah adalah membuat kesepakatan bersama komite sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, terkait kesiapan melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

“Jika poin tersebut belum dimiliki atau dilakukan maka sekolah yang sudah ditunjuk wajib memenuhi pesyaratan sesuai protokol kesehatan Covid-19,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Dikbud NTB, H. Aidy Furqan mengatakan tujuan dari simulasi pembelajaran tatap muka untuk mempersiapkan diri menuju tatanan baru. “Revisi SKB 4 menteri itu, zona hijau dan kuning boleh menggelar pembelajaran tatap muka, kita menuju zona kuning. Ini kita praktikkan dulu, agar jangan kaget nanti, kalau kaget kembali ke kondisi tidak terkendali, jadi maslaah lagi,” ujarnya.

Pihaknya melakukan evaluasi internal kegiatan simulasi per minggu. Nantinya setelah kegiatan simulasi pembelajaran tatap muka berakhir di pekan ketiga dari yang direncanakan akan dilaporkan ke gugus tugas percepatan penanganan Covid-19. (ron)