Marak, Perburuan Rusa Timur di Area Konservasi BKSDA NTB

Eni Kurniawati. (Suara NTB/Jun)

Bima (Suara NTB) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB Seksi Konservasi Wilayah III Bima-Dompu, mengungkap maraknya perburuan satwa dilindungi seperti rusa timur pada tiga dari empat area pengelolaan. Baik di Pulau Satonda, Sangiang maupun Lambu. Sementara di Madapangga tidak ditemukan lagi populasi hewan tersebut akibat masifnya perambahan hutan untuk penanaman jagung.

Demikian disampaikan Penyuluh Kehutanan BKSDA NTB Seksi Konservasi Wilayah III Bima-Dompu, Eni Kurniawati, S. Hut., kepada Suara NTB di kantornya, Selasa, 4 Mei 2021.

Iklan

Ia menjelaskan, dari empat area konservasi yang menjadi tanggung jawab pihaknya, masih ditemukan satwa liar dilindungi seperti rusa timur. Namun demikian, populasinya terus berkurang akibat perburuan liar. “Populasinya ada cuma tahu sendiri kondisinya, sudah jauh berkurang karena begitu maraknya perburuan liar,” ungkapnya.

Mengonsumsi daging rusa bagi sebagian besar masyarakat di wilayah ini, menurutnya sesuatu yang prestisius karena dianggap makanan istimewa pada jaman kerajaan. Hal itu lantas mendorong oknum tertentu untuk memburu, bahkan semakin marak terjadi akibat mudahnya akses menuju area konservasi.

Pada empat area pengelolaan, khusus Taman Wisata Alam Madapangga tidak ditemukan lagi adanya rusa timur karena hutan penyangga kehidupan di sekitarnya habis dibabat warga untuk penanaman jagung. Sementara tiga kawasan konservasi lain masih ada, namun populasinya sudah sangat kecil. “Di Lambu misalnya kita pernah berjumpa langsung, secara tidak langsung masih ditemukan kotorannya. Kalau di Sangiang dan Satonda masih ada koloni rusa,” ujarnya.

Masih maraknya perburuan hewan dilindungi ini, selain karena sering menemukan jerat rusa pada saat patroli wilayah konservasi, juga tidak sedikit penjual daging hewan tersebut diberikan surat peringatan oleh BKSDA. Tetapi mengingat tingginya permintaan pasar, berbagai cara terus dilakukan warga untuk memburu dan menjual hasil buruan tersebut.

Diyakinkan Eni Kurniawati, populasi hewan ini sudah jauh berkurang. Hal itu ditandai dengan perilaku hidupnya, yang mana mereka kini berkeliaran dalam koloni atau kelompok kecil. “Secara teori atau perilaku hidup rusa, mereka ini kan harusnya dalam kawanan. Memang ada yang ditemukan berkelompok, tapi jumlah itu sudah sangat kecil,” jelasnya.

Sebagai salah satu cara meredam kepunahan rusa timur. Masyarakat atau lembaga tertentu diberikan ruang untuk melakukan penangkaran setelah mengantongi izin. Namun demikian, bibitnya bukan hasil buruan tetapi dari penangkar resmi yang sudah lama mengembangbiakan hewan tersebut. “Jadi dia mencari bibit dari penangkar yang sudah resmi, bukan diburu secara liar karena itu melanggar hukum,” pungkasnya. (jun)

Advertisement ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional