Marak, Pemanah Misterius di Dompu

BARANG BUKTI - Kasat Reskrim Polres Dompu, AKP. Daniel Partogi Simangungsong, S. IK saat menunjukan barang bukti anak panah yang diamankan saat operasi cipkon baru-baru ini, Kamis,  6 Desember 2018. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Tindak pidana penganiayaan menggunakan panah di Dompu makin marak terjadi. Selama kurun waktu enam bulan terakhir, sudah delapan orang jadi korban. Rata-rata menderita luka tusuk serius di bagian tubuh. Parahnya, sebagian besar dari korban dan terduga pelaku merupakan anak di bawah umur.

 

Iklan

Kasatreskrim Polres Dompu, AKP. Daniel Partogi Simangungsong, S.IK., mengatakan, dari beberapa kasus yang dilaporkan tersebut baru empat tersangka yang berhasil diamankan, mereka berinisial Rn, M, N, A. “Dari bebarapa kasus itu baru empat tersangka yang berhasil kita amankan, pelaku lain masih lidik,” kata dia kepada wartawan saat menggelar jumpa pers di Mapolres, Kamis,  6 Desember 2018.

 

Selain mengamankan empat terduga pelaku yang meresahkan masyarakat tersebut, baru-baru ini juga ada dua orang yang terjaring operasi cipkon atas dugaan kepemilikan panah, ia N Warga Dusun Rasanggaro Desa Mangge Asi dan Nm asal Kelurahan Kandai II. Dari tangannya berhasil disita 10 butir anak panah, dua buah ketapel dan satu unit kendaraan.

 

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, lanjut Partogi Simangungsong, diketahui bahwa benda tajam yang dibuatnya sendiri itu sengaja dibawa saat keluar rumah untuk berjaga-jaga, karena sebelumnya sempat dikejar orang tak dikenal di Lingkungan Renda. “BB yang pengakuannya dibuat sendiri untuk berjaga-jaga ini kita temukan dalam jok motor tersangka saat operasi cipkon dilakukan,” ujarnya.

 

Meski diakui tidak ada korban yang dianiaya kedua remaja ini, namun berbekal barang bukti yang kerap dimanfaatkan untuk melancarkan aksi kejahatan tersebut, mereka langsung digiring ke Mapolres. Mereka terancam dijerat undang-undang darurat dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

 

Biasanya, jelas Partogi Simangungsong, aksi kejahatan ini dilancarkan para pelaku dengan mengendarai sepeda motor. Ketika sudah menjumpai sasaran baru anak panah dilepas kemudian kabur mengamakan diri. Hal itu yang terkadang membuat polisi sulit mengungkap keberadaan pelaku.

 

“Kalau motifnya, kemungkinan aksi balas dendam itu ada, cuma yang bersangkutan biasanya tidak mau menyatakan di dalam pemeriksaan terkait dengan dendam atau punya masalah dengan korban,” pungkasnya. (jun)