Marak Kosmetik Ilegal Berbahaya, Ini yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Mataram (suarantb.com) – Maraknya peredaran kosmetik mengharuskan masyarakat cerdas dalam menyikapinya. Masyarakat hendaknya berhati-hati dalam memilih dan menggunakan kosmetik. Apalagi dengan banyak ditemukannya kosmetik ilegal akhir-akhir ini.

Kepala Seksi Pemeriksaan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram, Yosef Dwi Irwan Prakasa, S. Si, Apt menyatakan pihaknya bersama lintas sektor terkait secara rutin melakukan upaya pengamanan. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan farmasi dan pangan yang beredar di wilayah NTB aman, bermutu dan bermanfaat.

Iklan

“Terkait peredaran sediaan farmasi tobat-obat tradisional termasuk kosmetik itu kan memang menjadi tugas dan kewajiban kita bersama, baik itu pemerintah, kemudian produsen dan pelaku usaha dan juga konsumen,” kata Yosef saat ditemui suarantb.com di ruang kerjanya, Selasa, 16 Mei 2017.

Menurut Yosef, masyarakat perlu melakukan Cek KLIKK dalam memilih kosmetik yang akan digunakan. Cek K pertama adalah kemasan. Kemasan harus masih utuh. Jangan sampai membeli kosmetik yang kemasan sudah rusak, berubah bentuk dan kenampakan sudah berbeda. “Artinya harus menjadi konsumen yang cerdas,” tambahnya.

Cek L kedua adalah Label. Pastikan label tercantum jelas dan lengkap. Label harus mencantumkan nama kosmetik, kegunaan, cara penggunaan, komposisi, nama dan negara produsen, nama dan alamat lengkap, nomor bets, ukuran atau berat bersih, tanggal kadaluarsa, peringatan dan nomor notifikasi.

Cek I adalah izin edar berupa notifikasi. Izin edar yang sudah terdaftar di BPOM dapat dicek di situs www.pom.go.id. Caranya dengan memasukan no. Izin yang ada pada produk ke situs tersebut. Kosmetik yang belum terdaftar tidak boleh diedarkan.
Cek K adalah Kegunaan dan cara penggunaan. Masyarakat perlu membaca kegunaan dan cara penggunaan yang tercantum pada kemasan sebelum memakai kosmetik.

Cek K selanjutnya adalah Kadaluarsa. Masyarakat harus memperhatikan batas kadaluarsa. Jangan sampai membeli dan memakai kosmetik yang sudah kadaluarsa.

Kosmetik ilegal dikhawatirkan mengandung bahan-bahan berbahaya. Hal itu karena produk tersebut belum memenuhi persyaratan mutu keamanan dan kemanfaatan. Yosef mengatakan bahan berbahaya yang dilarang dalam kosmetik diantaranya merkuri, asam retinoat dan merah K3. Bahan kimia tersebut tidak bisa hilang dan akan terakumulasi di dalam tubuh. Efeknya mulai dari iritasi, kemerahan, bengkak dan dapat menyebabkan kanker kulit. Selain itu bahan kimia yang terakumulasi dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf, gangguan fungsi hati dan ginjal.

Yosef mengaku saat ini produk kosmetik yang dijual online masih banyak yang tidak memiliki izin edar. Walaupun beberapa sudah ada yang terdaftar. Pelaku usaha online harus memahami regulasi. Karena terdapat sanksi hukum yang tegas.

“Karena sanksinya menurut UU Kesehatan no. 36 tahun 2009 pasal 106 ayat 1 Jo pasal 197 setiap sediaan farmasi obat, obat tradisional dan kosmetik harus terdaftar. Sanksinya apa, sanksinya Rp 1,5 miliar dan penjara 15 tahun,” tegas Yosef.

Yosef menghimbau masyarakat supaya menjadi konsumen cerdas. Jangan mudah terbuai oleh iklan. Kosmetik tidak bisa memberikan dampak yang instan. Yang paling penting menurut Yosef, pastikan produk terdaftar dalam BPOM.

Berdasarkan hasil pengawasan BBPOM Mataram beberapa hari terakhir, dari 11 sarana kosmetik yang diperiksa, 9 diantaranya tidak memenuhi ketentuan. Begitu juga dengan obat tradisional dari 5 sarana yang diperiksa, 4 diantaranya tidak memenuhi ketentuan.

“Yang kita sasar ini sarana-sarana yang memiliki track record pernah ada temuan,” pungkasnya. (bur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here