Marak Angkutan Daring, Pengusaha Angkot Terancam Gulung Tikar

Mataram (Suara NTB) – Angkutan daring di Mataram semakin ramai. Tak hanya M – jek. Bahkan, Go – Jek dan Uber telah masuk. Maraknya jasa angkutan berbasis aplikasi ini menjadi ancaman bagi pengusaha lokal yang mengandalkan transportasi manual. Jika tak segera diatur, pengusaha angkot terancam bangkrut atau gulung tikar.

Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Mataram, H. Sukana menegaskan, pertemuan dengan Dinas Perhubungan Provinsi, Dishub Kota Mataram dan Organda menyepakati bahwa sebelum adanya izin operasi angkutan daring tidak boleh beroperasi. Para ojek daring dan sopir daring tetap nekad beroperasi meski tidak memiliki payung hukum.

Iklan

“Kita tetap menolak Go jek, M – jek dan uber di Mataram,” tegas Sukana.

Menurutnya, keberadaan angkutan daring justru jadi ancaman bagi pengusaha lokal. Pihaknya bukan takut bersaing, tetapi secara regulasi mereka tak dilegalkan. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan tindakan dan menertibkan angkutan daring tersebut. “Pemerintah tidak ada respon dan sebaliknya membiarkan,” sesalnya.

Sukana menceritakan, kondisi angkot saat ini jauh berbeda dari sebelumnya. Penghasilan tak sebanding dengan biaya operasional. Bisa dibayangkan kata dia, satu kali jalan hanya mendapatkan lima orang penumpang. Artinya, hanya mendapatkan uang Rp 25 ribu.

Sementara, berbicara operasional dan kebutuhan rumah tangga tak cukup. Sopir angkot bertahan biasanya mengandalkan langganan. Ia tak heran jika rekan – rekan seprofesinya beralih dengan mengangkut barang. “Karena yang diharapkan di jalan itu tidak ada,” cetusnya.

Belakangan, Pemkot Mataram pernah menjanjikan sopir angkot untuk mengangkut anak sekolah. Janji itu, kata Sukana, hanya isapan jempol belaka. Faktanya, masih banyak orangtua mengantar jemput anak mereka menggunakan mobil pribadi. Belum lagi, rencana angkot dijadikan angkutan feeder.

Sebagai feeder memiliki trayek khusus sehingga tidak boleh menggunakan jalan utama. Sementara, penumpang kebanyakan berada dijalur utama alias protokol. “Tambah kacau sudah nanti,” ucapnya.

Angkot Perlu Berbenah
Di satu sisi, munculnya angkutan daring di Kota Mataram tak terlepas dari tingginya permintaan masyarakat terhadap jasa angkutan. Salah satu dianggap lebih mudah dengan memesan melalui aplikasi smartphone.

Selain murah juga praktis. Artinya, calon penumpang tidak perlu menunggu lama. Ojek atau sopir daring akan datang dan pembayaran sudah jelas. “Kalau mau ke mana kan gampang tinggal pesan saja,” kata Rina.

Dibandingkan dengan Angkot lanjutnya, sangat tidak nyaman. Selain itu, tingkat keamanan belum tentu terjamin. Termasuk juga kondisi angkot sudah tak layak karena termakan usia.

Mahasiswi semester enam salah satu perguruan tinggi swasta di Mataram menambahkan, semestinya tumbuhnya angkutan daring dijadikan motivasi bagi sopir angkot untuk melakukan pembenahan. Baik dari sisi pelayanan, kenyamanan dan keselamatan penumpang. (cem)