Mantan Kades Bonder Ditahan Jaksa

Tiga tersangka dugaan korupsi APBDes Bonder digiring ke mobil tahanan untuk dibawa ke Rutan Praya, setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejari Loteng, Kamis, 23 September 2021.(Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Tengah (Loteng) resmi menetapkan mantan Kepala Desa (Kades)  Bonder Kecamatan Praya Barat, L. Ha., sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Bonder tahun 2018-2019 lalu. Bersama mantan bendahara desa, LMA serta Su, Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat. Ketiganya ditahan Rutan Praya, Kamis, 23 September 2021.

“Penahanan langsung kita lakukan, karena ada kekhawatiran para tersangka melakukan tindakan berupa menghilangkan alat bukti dan tindakan lainnya yang bisa menghambat proses penyidikan,” terang Kepala Kejari Loteng, Fadil Regan, S.H. M.H., saat memberikan keterangan pers di kantornya,  Kamis sore.

Iklan

Ia memastikan, kalau proses penahanan sudah sesuai sesuai dengan aturan yang berlaku. Dan, itu semua juga untuk memudahkan proses penyidikan yang saat ini tengah berlangsung. “Para tersangka ditahan sampai 20 hari kedepan, sembari menunggu tahap II atau penuntutan. Dan, bisa diperpanjang jika memang diperlukan,” jelasnya.

Namun dengan melihat proses penyidikan yang sudah berjalan, pihaknya optimis bisa meningkatan status kasus tersebut ke tahap II dalam 20 hari kedepan. Karena memang pihaknya kini tinggal melengkapi beberapa persyaratan lainya. Agar kasus tersebut bisa ditingkatkan ke tahap selanjutnya sampai ke proses persidangan nantinya.

Ketiga tersangka  diduga terlibat kasus dugaan korupsi APBDes Bonder tahun anggaran 2018 dan 2019 lalu, dengan nilai kerugian negara mencapai hingga Rp600 juta. Angka tersebut jauh lebih besar dari angka hasil audit sebelumnya yang hanya sekitar Rp400 juta saja.

“Jadi dalam proses pengembangan yang kita lakukan, ditemukan dugaan kerugian tambahan dari hasil audit sebelumnya. Sehingga total kerugian negara dalam kasus ini senilai Rp600 juta lebih,” ujarnya.

Kerugian negara terbesar berasal dari sejumlah kegiatan proyek fisik. Di mana banyak proyek fisik yang diketahui tidak sesuai spesifikasi serta terjadi kekurangan volume pekerjaan. Ada juga proyek yang diduga fiktif. Seperti pengadaan fasilitas kantor dan beberapa kegiatan lainnya.

Lebih lanjut Fadil menjelaskan, jauh sebelum kasus tersebut ditingkatkan ke tahap penyidikan, pihaknya sebenarnya sudah memberikan kesempatan bagi tersangka, terutama L.Ha., supaya mengembalikan nilai kerugian negara yang timbul. Namun yang bersangkutan nyatanya tetap ngotot tidak melakukan pengembalian. Alasannya karena tidak melakukan korupsi seperti yang dituduhkan.

Sementara alat bukti yang mengarah ke tindakan korupsi sudah hampir lengkap kala itu. Tapi karena tidak ada niat baik dari tersangka untuk mengembalikan kerugian negara, sehingga kasusnya ditingkatkan ke tahap penyidikan. Dan, saat ini sudah dilakukan penetapan tersangka sekaligus penahanan.

“Untuk peran masing-masing tersangka nanti akan kita jabarkan setelah masuk tahap penuntutan. Yang jelas ketiganya diduga kuat terlibat. Dengan peranya masing-masing,” imbuh Fadil.

Kasi Intel Kejari Loteng, Catur Hidayat Putra, S.H., menjelaskan, para tersangka sebelumya dipanggil untuk diperiksa oleh jaksa penyidik. Datang sekitar pukul 10.00 Wita, ketiganya kemudian ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan hingga pukul 12.30 wita.

Usai pemeriksaan, ketiga tersangka langsung digelandang ke Rutan Praya, menggunakan mobil tahapan Kejari Loteng untuk dititip sementara waktu. “Setelah ini kita akan siapkan tuntutan terhadap para tersangka sesuai perannya masing-masing,” sebutnya. (kir)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional