Mantan Bendahara Kesbangpol Loteng Diduga Edarkan Upal

Praya (Suara NTB) – Dua oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Badan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri (Kesbangpoldagri) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Minggu, 12 Februari 2017 sore digelandang anggota Polsek Praya. Keduanya ditangkap lantaran diduga mengedarkan uang palsu (upal). Untuk keperluan penyelidikan kedua tersangka dan upal sudah diamankan di Mapolsek Praya.

Kapolsek Praya, Iptu Ketut Suardana, yang dikonfirmasi, Senin, 13 Februari 2017, mengungkapkan, kedua tersangka merupakan pasangan suami istri, masing-masing Nu (34) serta ESF (30), warga Perumahan Taman Arum Praya. Nu tercatat sebagai staf di Kesbangpoldagri Loteng. Sementara ESF merupakan mantan bendahara Kesbangpoldagri Loteng tahun 2015 lalu.

Iklan

Penangkapan kedua tersangka bermula dari informasi pegawai salah satu outlet biro jasa pengiriman uang. Saat itu sekitar pukul 16.00 wita, kedua tersangka datang hendak mengirim uang kepada temannya di Mataram, sebanyak Rp 300 ribu. Setelah diperiksa oleh petugas, dua lembar uang pecahan Rp 100 ribu diduga palsu.

Petugas kemudian menghubungi aparat Polsek Praya. Tidak lama kemudian, setelah mendapat laporan, polisi kemudian datang. Dan, langsung mengamankan kedua pelaku. Mengetahui ada anggota polisi yang datang, kedua pelaku tampak kebingungan.

Polisi kemudian menginterogasi kedua tersangka. Di hadapan polisi, tersangka sempat mengelak. Namun kedua tersangka akhirnya tidak bisa berkutik setelah polisi menemukan uang pecahan Rp 100 ribu lainnya yang juga diduga palsu, di dalam tas tersangka.

 Suardana menjelaskan, total upal yang disita dari tangan tersangka sebanyak 27 lembar senilai Rp 2,7 juta. Seluruh upal sudah diamankan untuk keperluan penyelidikan oleh aparat kepolisian.  Kepada wartawan, Suardana mengatakan, petugas outlet biro jasa pengiriman uang curiga kalau kedua tersangka sebagai pengedar upal, karena aksinya tidak dilakukan sekali. Sebelumnya, pada 8 Februari, kedua tersangka sempat mengirim uang melalui biro jasa pengiriman uang sebesar Rp 10 juta.

Saat itu ditemukan ada sekitar empat lembar uang pecahan Rp 100 ribu yang palsu. Sehari kemudian, kedua tersangka kembali mengirim uang sebesar Rp 1 juta ke dua temannya di Mataram, masing-masing Rp 500 ribu. Dan, diketahui ada empat lembar uang pecahan yang sama juga palsu. Sehingga pada saat transaksi yang ketiga petugas biro jasa pengiriman uang melaporkan ke polisi.

Polisi sendiri saat ini masih terus mengembangkan kasus tersebut. Guna mencaritahu sumber upal tersebut. “Kepala polisi tersangka mengaku kalau uang tersebut merupakan uang setoran kelompok tani yang sebelumnya sempat dibantu oleh tersangka untuk memperoleh bantuan program dari pemerintah daerah,” tegasnya.

Atas perbuatan tersebut, kedua tersangka terancam hukuman berat. Karena dijerat pasal 26 ayat 2 dan 3 UU. No. 7 tahun 2011 tentang mata uang. Dengan ancaman hukuman minimal 10 sampai 15 tahun penjara. (kir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here