Mangkrak, Proyek Penyulingan Air di Langgudu

Bima (Suara NTB) – Dari sejumlah alat penyulingan air bantuan pemerintah pusat di NTB terindikasi bermasalah. Salah satunya di Desa Pusu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima. Instalasi penyulingan air  yang dibangun dengan anggaran Rp1 miliar lebih, sejak tahun 2013 lalu mangkrak sampai sekarang.

Alat penyulingan air laut menjadi air tawar itu dibangun di atas satu petak lahan sekitar kawasan pesisir Pusu. Dilengkapi sebuah sumur dan panel tenaga surya untuk sumber listrik.

Iklan

Menurut Kades Pusu, Abdul Hamid, nilainya secara rinci ia tidak tahun. Perangkat penyuling air ini, merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang hanya sempat dioperasikan tahun 2012.

‘’Waktu mesin air ini ada, bisa (memproduksi air tawar) sampai 10 galon air dalam satu jam,’’ kata Abdul Hamid di lokasi instalasi, Kamis, 12 April 2018 lalu.

Saat warga sedang menikmati air bersih, salah satu komponen di dalam instalasi rusak. Kerusakan terjadi pada alat pemurnian air atau yang berfungsi sebagai filtrasi air laut ke air tawar. ‘’Sejak alat itu rusak, penyulingan air sudah tidak ada lagi. Jadi cuma bisa dipakai satu tahun saja,’’ ungkap Abdul Hamid.

Upaya memperbaiki mustahil dilakukan. Karena tidak ada yang paham soal mesin dan instalasi penyulingan. Apalagi komponen utama berupa alat filtrasi asing bagi warga. Belum ada upaya menghubungi teknisi Kementerian Kelautan, karena mereka sama sekali tidak punya akses ke pemerintah pusat.

Akhirnya instalasi dibiarkan mangkrak begitu saja. Sejumlah komponen seperti mesin pompa air diduga dipreteli warga. Tempat penyimpanan mesin itu kini hanya jadi sarang tawon. Sekitar bangunan nyaris tak terlihat karena ditutup semak belukar.

Sejak alat itu tak berfungsi, warga 175 KK dan jiwa 656 jiwa di sana kembali memanfaatkan air sumur bor yang terbatas. Beruntung penduduk setempat mendapat bantuan pipanisasi dari Dinas PU Kabupaten Bima. Sampai saat ini, sumber air yang disalurkan melalui pipa pipa itu bisa dimanfaatkan warga.

Proyek penyulingan air mangkrak bukan cerita baru di NTB. Jauh sebelumnya, sejumlah instalasi yang sama nasibnya tak jauh berbeda. Seperti di Gili Gede, Lombok Barat, Pulau Maringkik Lombok Timur, Pulau Bungin Sumbawa, juga tak bisa difungsikan. Instalasi di Bungin dan Maringkik sebenarnya pernah diusut Kejaksaan Agung. Namun kasusnya hingga kini sudah raib.

Kerusakan Dianggap Wajar

Sementara itu, Dinas Kelautan dan Perikanan telah melakukan evaluasi terhadap kebermanfaatan mesin-mesin penyuling air yang digelontorkan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) di beberapa wilayah di NTB.  Jika melihat usia sejak dikucurkan bantuan tersebut oleh pemerintah pusat. Dapat dikatakan wajar, bila mesin-mesin tersebut mengalami kerusakan. Sehingga terdapat diantaranya tak lagi dapat difungsikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Ir. L. Hamdi, M. Si telah mengetahui keberadaan mesin –mesin penyulingan air untuk masyarakat pesisir yang tersebar di beberapa titik. Mesin penyulingan yang dihajatkan untuk memudahkan masyarakat pesisir mendapatkan air tawar itu diturunkan ke NTB diatas tahun 2010 hingga 2015.

Beberapa mesin tersebut di tempatkan di Gili Gede, Lombok Barat. Lombok Utara. Gerupuk, Lombok Tengah. Seriwe dan Maringkik, Lombok Timur. Di Poto Tano Kabupaten Sumbawa Barat. Di Pulo Medang Kabupaten Sumbawa. Di Pusu dan Baju Pulo, Kabupaten Bima.

Hamdi belum lama menjabat sebagai Kepala Dinas Kelautan Perikanan Provinsi NTB. Karenanya, secara detail, mesin penyulingan air dimaksud keberadaannya diketahui hanya gambaran umum. Kepala dinas sekaligus mengkonfirmasi salah Kepala Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Bima. Guna memperjelas keberadaan dan fungsi mesin penyulingan air tersebut saat ini.

 Dari hasil komunikasinya. Diketahui, bahwa mesin penyulingan air di kabupaten itu kondisinya saat ini benar tak dapat difungsikan. Disebabkan, adanya kerusakan komponen mesin. Sejak diturunkan oleh KKP, mesin-mesin tersebut sebetulnya telah beroperasi beberapa tahun. Bahkan air laut hasil sulingannya, telah dijual kepada masyarakat sekitar.

Dalam perjalanannya, terjadi kerusakan komponen mesin. Petugas teknis yang telah dilatih oleh petugas teknis dari KKP, setelah mesin diturunkan, mengalami kendala kesulitan mencari onderdil mesin. Karena sifatnya spesifik dan tidak dijual sembarangan. Karena sebab itulah, mesin tak bisa dioperasikan. Sebagai gambaran, rata-rata persoalannya hanya karena kesulitan mendapatkan onderdilnya.

Hamdi menjelaskan, informasi yang diterimanya dari daerah. Beberapa diantaranya mesin tersebut berusia lebih dari enam tahun. Sehingga, berdasarkan informasi yang diterimanya lagi, wajar saja mesin-meisn tersebut mengalami kerusakan. Setelah dilakukan pemakaian non stop bertahun-tahun.

‘’Laporan yang saya dapat dari daerah. Wajar saja mesin itu rusak, usianya sudah enam tahun berjalan. Teman-teman di kabupaten juga telah menganggarkan. Tapi alatnya ini yang susah di cari,’’ jelasnya.

Keberadaan mesin-mesin penyulingan air laut ini, oleh Dinas Kelautan Perikanan Provinsi NTB, diketahui sebatas koordinasi dengan pemerintah pusat dan kabupaten. Mesin penyulingan air ini merupakan program KKP, yang kemudian diterima oleh kabupaten.

‘’Ada program dari pusat, kabupaten mengajukan. Kita hanya sebatas koordinasi saja. Tetapi kita juga telah melakukan evaluasi tahun 2015 dan 2016. Hasil evaluasi kita telah sampaikan ke pusat. Daerah (kabupaten) bilang, karena belum ada konfirmasi dari pusat, mungkin karena sudah mempertimbangkan juga usia efektif mesin. Tetapi kita tetap meminta daerah (kabupaten) menganggarkan untuk perbaikannya,” demikian L. Hamdi. (ars/bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here