Maksimalkan Fungsi Wajib Belajar 12 Tahun

Mataram (Suara NTB) – Pernikahan di usia dini dianggap sebagai salah satu penyebab adanya lingkaran kemiskinan di tengah masyarakat. Bukan itu saja, ini juga menjadi salah satu penyebab banyaknya anak yang mengalami putus sekolah. Padahal, pemerintah telah mencanangkan wajib belajar (Wajar) 12 tahun bagi semua anak di Indonesia. Program ini dilihat sangat bagus, sehingga perlu untuk dimaksimalkan.

‘’Intinya bahwa pernikahan ini adalah bagian lingkaran kemiskinan. Apa yang harus kita lakukan? Hal yang perlu kita perhatikan adalah mencegah ini dulu. Anak-anak kita bagaimana bisa mengikuti program Wajar 12 tahun. Agar cegah mereka sampai usia 18 tahun tidak menikah,” kata Wakil Rektor I Universitas Muhammadyah Mataram Rena Aminwara, dalam Diskusi Terbatas Harian Suara NTB di Mataram, Sabtu, 2 Desember 2017.

Iklan

Ia mengatakan bahwa perlu adanya evaluasi. Karena untuk masuk ke SMA saat ini butuh biaya. Bahkan ia melihat adanya fenomena pernikahan yang baru, yaitu menikah agar biasa dibantu biaya sekolah oleh suaminya. Pola pernikahan ini biasanya merupakan pernikahan siri yang tidak tercatat di Kantor Urusan Agama.

“Terjadi fenomena baru. Penelitian kami, bahkan ada yang tawarkan anaknya untuk dinikahi agar bisa sekolah. Ini sesuatu yang baru ujung ujungnya kemiskinan. Tapi memang program Wajar 12 tahun ini paling tidak mencegah mereka menikah sampai usia 18. Jadi masuk SMA juga harus murah, ini yang harus dikawal,” ujarnya.

Ia mengatakan dalam penelitian yang dilakukan banyak anak-anak SMA yang melakukan nikah siri. Namun ini tidak tercatat di Badan Pusat Statistik atau perangkat pemerintah lainnya. Sehingga fenomena ini perlu untuk diantisipasi agar tidak berlanjut. Bahkan ada dari mereka yang dipaksa untuk menikah oleh orang tuanya agar bisa membantu biaya sekolahnya sendiri.

“Pernikahan siri ini kan tidak tercatat, jadi tidak terdata. Bahkan ada yang sampai orang tuanya yang menyuruh agar anaknya dinikahi. Ini kan fenomena yang aneh tapi memang terjadi. Jadi sekarang bagaimana caranya semua bekerjasama untuk melakukan pencegahan,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan bahwa program Wajar 12 tahun perlu dievaluasi kembali. Sehingga beban biaya yang ditanggung oleh orang tua anak tidak terlalu besar. Meskipun sudah ada bantuan pembiayaan oleh pemerintah, namun pihak sekolah terkadang membebankan sejumlah biaya yang harus dibayarkan oleh siswa dan orang tua siswa.

Dampak Sosial Menikah Dini

Akademisi Unram, Oryza Pneumatica Inderasari menilai, fenomena pernikahan dini merupakan akumulasi dari aspek ideologi, jasmani, agama, serta ekonomi. Pernikahan dini merupakan biang sekaligus buah dari kemiskinan.

Oryza menjelaskan, rekayasa sosial penanganan pernikahan dini disusun melalui pemetaan akar persoalan dari hulu sampai hilir. Mulai dari pencegahan sampai penanganan. ‘’Penyelesaian masalah pernikahan usia dini tidak bisa digeneralisasi sebagai penyebab masalah sosial,’’ ujar Dosen Sosiologi Fisipol Unram itu.

Dia menyebut, menikah muda bagi sebagian orang dilakukan dengan pertimbangan agama, tujuannya untuk menghindari perzinahan.

Pertimbangan lainnya ketika anak sudah disiapkan lingkungan sosialnya untuk menjadi penerus bisnis keluarga.

“Hal yang datangnya dari ideologi seperti ini agak susah dipaksakan untuk menerima konsep pendewasaan usia menikah. Justru menimbulkan resistensi,” paparnya.

Meski demikian, sambung Oryza, pernikahan dini sudah menjadi realitas yang harus segera diselesaikan. Sebab dari berbagai macam aspek dilihat pernikahan dini sudah ada pergesaran nilai.

‘’Misalnya ada alasan suka sama suka. Atau malahan sekadar pelampiasan nafsu. Ini bukan soal melarikan calon istri lalu diterima keberadaannya lalu dinikahkan,” kata dia.

Menurutnya, pendekatan budaya sudah secara luhur mengatur bahwa harus ada kesepakatan dua belah pihak. Menikah bukan karena adanya keadaan terpaksa seperti akibat dari pergaulan perilaku menyimpang.

Dari sisi ekonomi, Oryza memandang menikah dini dianggap sebagai jalan pintas meretas kemiskinan. “Kondisi hiperealitas. Berusaha keluar dari kemiskinan tapi menikah di usia dini. Justru itu menjadi penyebab dan akibat dari menikah dini,” ucapnya.

Pandangnya seperti itu, sambung dia, dipengaruhi dari kurangnya pemahaman agama. “Pengetahuan agama yang kurang memadai menjadi penyebab dan dampaknya, karena kehilangan orientasi hidup,” ujarnya.

Dia menekankan, pernikahan dini harus dilihat secara seimbang dari kacamata gender. Peran masing-masing yang terlibat langsung terjadinya pernikahan dini dibedah.

“Agar tidak bias gender, agar tidak diarahkan melulu pada perempuan saja tapi juga pada laki-laki. Melihat harus seimbang ketika mereka memiliki status di masyarakat. Jangan hanya menjustifikasi perempuan hanya korban dan penyebab dalam kehidupan sosial,” tutup Oryza. (lin/why)