Maksimalkan Belanja Produk Lokal

Heru Saptaji. (Suara NTB/bul)

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB, Heru Saptaji berkomitmen mendukung penuh kebijakan daerah untuk bela beli produk lokal dalam rangka mendongkrak ekonomi daerah. Untuk tahun 2021 mendatang, anggarannya akan dimaksimalkan untuk membeli produk-produk lokal yang dibutuhkan.

Komitmen itu disampaikan Heru Saptaji ditemui di kantornya, Selasa, 1 Desember 2020. Anggaran untuk belanja Bank Indonesia setiap tahunnya tidak kecil, puluhan miliar. Heru yang belum lama ini menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB mengatakan, keberadaannya di provinsi ini dengan komitmen sepenuhnya mendukung tumbuh kembangnya pembangunan ekonomi daerah ini.

Dalam kondisi pandemi seperti ini, dibutuhkan penguatan terhadap usaha-usaha kerakyatan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah katanya, sangat konsen membangkitkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan mesin ekonomi dari UMKM.

Tahun 2021, Pemprov NTB juga akan melanjutkan stimulus ekonomi dengan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang untuk mengurangi dampak Covid-19. Paket bantuan kepada masyarakat dibeli dari produk-produk lokal yang dihasilkan oleh UMKM, kuliner,komoditas dan kriya.

Heru Saptaji mengatakan, Bank Indonesia juga melakukan hal yang sama. Apapun kebutuhan pendukung aktivitas SDM Bank Indonesia, yang diutamakan adalah menggunakan produk-produk lokal. ‘’Kami otomatis berpartisipasi aktif di dalamnya (Pergub bela beli produk lokal). Keberpihakan itu menurut kami sangat penting. Karena itu, mulai tahun 2021, BI melakukan aktivitas belanjanya, sepanjang ada di daerah ini dan itu memang bisa dipertanggungjawabkan, akan kita prioritaskan produk lokal,’’ jelasnya.

Belanja apa saja? Misalnya untuk kebutuhan logistik di BI NTB. Semisal penggunaan pakaian lokal produk UMKM, keset, interior kantor. Heru Saptaji mengajak untuk menyenangi produk-produk yang bernuansa kedaerahan atau lokal. ‘’Seragam kasir, wajib hukumnya gunakan produk tenun NTB. Lalu sebagian pejabat di kita, bajunya harus punya tenun produk NTB. Karena pejabat-pejabat ini yang akan mewakili setiap pertemuan di manapun. Itulah yang dikatakan aspek keberpihakan menjadi bagian penting. Kalau kita tidak berkontribusi di dalamnya, artinya kita juga tidak berdimensi kedaerahan yang tepat,’’ imbuhnya.

Dalam setiap acara BI yang melibatkan masyarakat umum dan massa banyak, tetap ditekankan memaksimalkan penggunaan dan promosi produk lokal. Bank Indonesia juga memiliki armada GenBI (Generasi Bank Indonesia). Jumlahnya cukup banyak. Mereka dibina dan diberikan beasiswa. Armada ini juga akan didorong menggunakan atribut-atribut produk lokal, dan memasarkan produk lokal NTB.

Dalam rangka memperkuat ekonomi NTB, arah kebijakan Bank Indonesia ke depan adalah melakukan pendekatan korporatisasi. Bank Indonesia akan menggandeng seluruh stakeholders terkait dari hulu hingga hilir dalam pembinaan dan program kepada masyarakat. Dari aspek penyediaan bahan baku yang berkualifikasi, lalu kelompok-kelompok petani dan UMKM didekatkan dengan lembaga pembiayaan (perbankan), kreditnya kemudian dijamin oleh asuransi. Dan hilirnya, penjualan produk akan ditangani oleh off-taker.

‘’Sehingga tidak lagi ada yang berpikir setelah membuat, ke mana akan menjual. Semua sudah masuk dalam satu system coorporate. Tahun 2021 dimulai,” demikian Heru. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here