Makna di Balik Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Maulana Syaikh

Mataram (Suara NTB) – Pemberian gelar pahlawan nasional kepada TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tentunya dinilai memberi makna berupa penegasan keterlibatan para ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekaligus juga memperlihatkan keterlibatan tokoh-tokoh NTB.

Namun, tak banyak orang tahu bagaimana perjuangan masyarakat, terutama para keluarga besar Maulana Syeikh yang saling bahu membahu melengkapi berbagai dokumen dan data yang dibutuhkan. Dalam upaya pengusulan gelar kepahlawanan bagi Tuan Guru Pancor yang telah banyak berbuat untuk bangsa ini.

Iklan

Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, H. Ahsanul Khalik, S.Sos, MH dalam sebuah kesempatan menjelaskan bahwa setelah pengusulan pertama yang oleh Kementerian Sosial melalui TP2GP. Pihaknya diminta untuk melengkapi berbagai kekurangan yang ada dalam pengusulan. Ditambah begitu banyaknya tahapan dan proses yang  harus dilalui dan  dilakukan.

Untuk mengetahui kronologis tersebut, secara umum pengusulan gelar kepahlawanan dibagi menjadi tiga tahapan.

Pertama, gagasan pemberian gelar ini muncul pertama kali dari keluarga besar yang kemudian mendapat dukungan dari banyak pihak masyarakat NTB. Termasuk semua organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU serta organisasi lainnya. Termasuk perguruan tinggi seperti Universitas Mataram (Unram) dan UIN Mataram serta perguruan tinggi swasta lainnya.

Dalam pengusulan kali ini semua bupati/walikota juga menberikan dukungannya dalam bentuk surat pernyataan resmi yang kesemua dukungan tersebut menjadi satu kesatuan dalam dokumen usulan.

Kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan penggalian dari berbagai sumber, mulai dari kalangan internal Nahdatul Wathan, para sahabat Maulana Syeikh, para santri dan tokoh-tokoh di luar NW.

Semua rata-rata menyampaikan bahwa almarhum TGKH Zainuddin Abdul Madjid kalau dilihat dari jasa jasanya, baik saat memperjuangkan kemerdekaan, maupun jasa jasanya dalam menyatukan umat Islam untuk menerima ideologi negara Pancasila yang memperlihatkan semangat kebangsaan dan ke-Islaman berjalan seiring sejalan. Maka sangat layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

‘’Setelah ini berjalan bersama berbagai pihak lainnya, Pemprov NTB melalui Dinas Sosial melakukan kajian-kajian mulai dari diskusi. Seminar dan penelusuran berbagai dokumen baik di perpustakaan dan arsip nasional atau pun di MUI pusat dan bahkan sampai Makassar dan Sumatera.

Kedua, ide ini kemudian diperkuat dengan membentuk tim pengkajian yang terdiri dari tiga tim. Yakni tim pertama, melakukan kajian dan pembuatan naskah akademik dalam bidang perjuangan kebangsaan. Tim kedua melakukan kajian dan pembuatan naskah akademik dalam bidang pendidikan. Tim ketiga melakukan kajian dan pembuatan naskah akademik tentang karya-karya Maulana Syeikh maupun karya orang lain tentang Maulana Syeikh.

Semua ini melalui proses yang tidak mudah karena juga harus melibatkan banyak pihak untuk mendapat hasil kajian berdasarkan fakta-fakta, dokumen dan sumber yang ada.

Tim ketiga melakukan kajian, dan pembuatan naskah akademik tentang karya-karya Maulana Syeikh maupun karya orang lain tentang Maulana Syeikh. Semua ini melalui proses yang tidak mudah karena juga harus melibatkan banyak pihak untuk mendapat hasil kajian berdasarkan fakta-fakta, dokumen dan sumber yang validitasnya harus teruji.

Dalam tim ini juga terlibat para akademisi, tokoh agama dan tokoh masyarakat, bahkan dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, mengambil peran aktif secara  langsung dan tidak langsung dalam tim, maupun memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional bagi Maulana Syeikh.

Ketiga, ide ini kemudian diperkuat dengan seminar nasional pada tanggal 5 April 2017 di Universitas Negeri Jakarta menghadirkan narasumber yang merupakan para ahli sejarah dari sejumlah perguruan tinggi terkemuka dari seluruh Indonesia.

Seminar itu dibuka Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla dan dihadiri oleh tokoh-tokoh NTB baik yang ada di daerah ataupun di luar daerah dan Jakarta. Diantaranya  Hamdan Zoelva, Fahri Hamzah, Prof. Farouq, Harun Al-Rasyid. Hadir pula tokoh-tokoh NTB dari daerah baik itu dari Bima, Dompu, Sumbawa dan Lombok.

Seminar ini semakin memperkaya khazanah keilmuan dan keahlian secara akademis tentang bagaimana perjuangan Maulana Syeikh yang dibahas tuntas oleh para Guru Besar Sejarah seperti Prof Taufik Abdullah sejarawan LIPI, Prof Djoko Suryo Guru Besar UGM, dan Prof Hariyono Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Malang.

Setelah proses ini dapat dilaksanakan dan dilalui dengan baik, maka ditindaklanjuti  pada proses pengusulan oleh Pemprov melalui Dinas Sosial Provinsi NTB setelah melalui pembahasan dari TP2GD kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial RI. Setelah dibahas oleh TP2GP kemudian diproses oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan yang selanjutnya dikirim Ke Presiden. (r)