Makmur-Ahda akan Lestarikan Tradisi Rebo Bontong

Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mataram nomor urut tiga, Ir. H. Lalu Makmur Said, MM, dan H. Badruttamam Ahda, Lc, saat menghadiri tradisi Rebo Bontong di Mataram. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Tradisi Rebo Bontong yang kerap dilakukan suku sasak sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad menjadi hal menarik untuk diperhatikan. Terlebih di era globalisasi, di mana tradisi dan budaya lokal kerap tersaingi dengan budaya luar yang lebih populer.

Calon Walikota dan Wakil Walikota Mataram nomor urut tiga, Ir. H. Lalu Makmur Said, MM, dan H. Badruttamam Ahda, Lc, melihat tradisi Rebo Bontong tersebut sebagai hal yang perlu bersama-sama dijaga. Terlebih, perayaan Maulid Nabi Muhammad dengan mandi bersama di sungai hanya ada di Pulau Lombok.

Iklan

“Ini menjadi bagian dari tradisi kita yang sudah lama. Yang mencirikan kita disebut Mataram yang Maju, Religius, dan Berbudaya. Kita tidak pernah meninggalkan akar-akar religiusitas dan kebudayaan itu, apalagi menggantinya dengan kebudayaan luar yang lebih populer,” ujar Makmur.

Menurutnya, jika dikelola dengan baik, tradisi Rebo Bontong justru bisa menjadi batu mulia bagi citra Kota Mataram. “Selain maknanya yang cukup filosofis di masyarakat kita, ini juga bisa jadi modal untuk pariwisata berbasis kebudayaan,” ujar mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram tersebut.

Senada dengan itu, Badruttamam Ahda yang maju sebagai penyuara kelompok muda menyebut tradisi Rebo Bontong tidak semata-mata dimaknai sebagai kegiatan mandi bersama di sungai untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad di Rabu terakhir bulan Safar. Melainkan, terdapat makna-makna lain seperti simbolisme penyucian diri dan kegiatan komunal-sosial yang belakangan banyak ditinggalkan masyarakat karena beralih ke budaya virtual.

“Di Kota Mataram tradisi ini masih banyak dilakukan di Dasang Agung dan beberapa daerah lain dengan mandi bersama di Sungai Jangkuk. Dengan majunya teknologi sekarang, harusnya pemanfaatannya sejalan dengan upaya kita mempertahankan budaya. Kita suarakan budaya kita ini ke luar, karena tidak ada yang punya selain kita,” ujar pemuda yang akrab disapa Ustaz Kairo tersebut.

Menurut Ahda, tradisi Rebo Bontong juga membawa nilai lokal yang menjadi ciri khas muslim Sasak di Lombok. Khususnya di Kota Mataram yang mengusung semangat kemajuan dengan tetap mempertahankan religiusitas dan kebudayaan.

“Selain menghidupkan kebudayaan, ini juga menjadi ladang ibadah bagi kita umat muslim sekalian, insyaallah jika ini dipertahankan terus, Mataram yang Maju, Religius, Berbudaya dan Siaga akan semakin kuat,” ujarnya. (tim)