Main Pinggir, Semangat Memerdekakan Remaja dari Dampak Buruk Akulturasi Budaya

Tanjung (suarantb.com) – 8-10 Agustus nanti, Organisasi Pasir Putih (OPP) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengadakan kegiatan berbasis remaja untuk yang kedua kalinya. Berbeda dengan tema kegiatan sebelumnya yaitu “Kemah Remaja”, tema yang diusung pada kegiatan kali ini adalah “Beyoung Main Pinggir.” Kegiatan tersebut nantinya akan dipusatkan di Pantai Sira Indah, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung Lombok utara.

Kepada wartawan, salah seorang anggota yang juga penggagas OPP, Muhammad Sibawaihai mengatakan, kalau kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengajak kembali para remaja, khususnya yang ada di Lombok Utara untuk kembali mengolah potensi segenap sumber daya yang ada di Lombok Utara. Sebab, jika hal tersebut tak disadari, kehawatiran akan dampak negatif pasti akan segera menjadi nyata.

“Sebenarnya, kegiatan ini adalah bentuk kegelisahan Pasir Putih melihat remaja di Lombok umumnya dan Utara khususnya. Dimana, saat ini kondisi remaja kita banyak yang terkena narkoba, banyak kawin muda, terus banyak juga yang tidak mengerti, atau akar budayanya sudah tercerabut. Itu sebenarnya alasan utamanya. Makanya kegiatan ini dibuat untukmengajak mereka kembali mengolah potensi-potensi baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang ada di Lombok Utara,” ujarnya.

Selain kesadaran akan potensi, kegiatan tema “Beyoung Main Pinggir” juga berangkat dari kegelisahan OPP untuk memberi pemahaman meminimalisir dampak negatif persentuhan budaya, persentuhan ekonomi dan politik yang riuh di KLU. Terlebih, mengingat posisinya sebagai destinasi wisata.

“Tema ini diambil karena mengingat Lombok Utara ataupun lombok ini sebagiannya pesisir. Kita banyak memiliki potensi kelautan. Tapi permasalahan di pesisir ini juga banyak, ada pungutan liar, tanah kita sudah dibeli oleh pihak asing, permasalahan sampah, dan berbagai macam permasalahan kemiskinan. Itu yang terjadi di kawasan pesisir ini. Itu yang kita lihat, makanya mengajak generasi muda ini sedari dini untuk bisa mengolah potensi ini dengan baik,” ujarnya.

Sedangkan untuk kata Beyoung sendiri di ambil dari bahasa daerah KLU yang bermakna tunas, yakni bagaimana mengelola tunas sehingga menjadi buah yang matang dan baik.

“Beyoung itu sendiri diambil dari bahasa Lombok Utara (biong) yang bermakna tunas. Nah kita percaya kalau buah itu dirawat dari kecil sedari biongnya itu maka dia akan menjadi baik. itulah makna filosofis dari biong itu. kita berharap, sejak remaja kawan-kawan ini dibina kreatifitas dan daya kritisnya, maka kelak  ketika mereka muda, bisa menjadi generasi-generais yang bisa kita andalkan,” katanya.

Terlepas dari makna filosofis dari kata beyoung tadi, lanjut Sibawaihi, ekses yang paling penting adalah kegiatan tersebut  bisa memberi gambaran bagaimana seharusnya menyikapi akulturasi budaya. Jangan sampai remaja mengambil mentah-mentah apa saja yang datang dari luar. “Jadi, akulturasi jangan sampai mencabut kita dari akar budaya,” katanya.

Menurut Sibawaihi, kegiatan digelar dalam bentuk kelas-kelas kecil. Format ini disesuaikan dengan semangat main pinggir. Dengan semangat mendorong remaja untuk kritis dan sadar akan manfaat dan dampak wisata pantai yang banyak dijumpai di KLU. Kelasnya sendiri terbagi dalam enam kelas kreatif. Yaitu, kelas penulisan kreatif, kelas pantomim, kelas daur ulang sampah, kelas video, kelas musik rupa, penanaman bakau dan pelepasan penyu. Khusus kelas pantomime sendiri akan diisi oleh enam seniman pantomim dari Taiwan. (ast)