Mahasiswa UNSA Manfaatkan Lahan Sempit untuk Pemenuhan Gizi di Pulau Bungin

Tim UNSA bersama ibu rumah tangga binaan di Pulau Bungin.(Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Tim PKM program studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Universitas Samawa (UNSA) kembali berhasil meraih prestasi pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM). Sekaligus mencetak sejarah baru sebagai prestasi keenam kalinya secara berturut-turut dalam PKM.

Proposal MSP merupakan satu dari lima proposal UNSA yang lolos dan mendapat pendanaan dari Kemendikbud tahun 2021. Judulnya, “Pemanfaatan Lahan Sempit Sebagai Kebun Gizi Berbasis Hidroponik untuk Mendukung Ketahanan Pangan di Pulau Bungin”. Melalui PKM ini tim PKM MSP yang diketuai oleh Sukma Dewi dan anggota tim yang terdiri dari Agus Kamarulsyah, Ma’adi, Desi Rahmayanti dan Jihat akbar telah memberikan penyuluhan, pelatihan, Praktek hidroponik dan pendampingan kepada mitra yaitu 10 orang ibu-ibu rumah tangga di Desa bungin.

Iklan

Sistem hidroponik yang diajarkan adalah hidroponik sistem wick yang merupakan salah satu sistem paling sederhana dari semua sistem hidroponik. Sebab tidak memiliki bagian yang bergerak sehingga tidak menggunakan pompa atau listrik. Sistem wick menggunakan prinsip kapilaritas. Yaitu dengan menggunakan sumbu sebagai penyambung atau jembatan pengalir air nutrisi dari wadah penampung air ke akar tanaman.

Upaya edukasi hidroponik dengan media wick oleh tim PKM MSP pada masyarakat Pulau Bungin menjadi solusi bagi pemenuhan gizi keluarga melalui ketersediaan beberapa jenis sayuran yang dibudidaya menggunakan media air. Hal ini mengingat kondisi tanah yang termasuk kategori lahan kritis. Serta ketersediaan lahan pekarangan yang sempit. Sehingga teknologi hidroponik sistem wick diharapkan mampu mewujudkan kemandirian pangan dalam rumah tangga di pulau Bungin. Setidaknya, untuk beberapa komoditas tertentu.

Dari hasil monitoring dan evaluasi didapatkan bahwa pertumbuhan sayur baik dan sudah mulai dipanen pada minggu kedua setelah pembesaran bibit. Jenis sayur yang lebih cepat dipanen adalah kangkung dan bayam sedangkan sawi dan pakcoy membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding keduanya.

Kepala Desa Bungin, Jaelani S.H, mendukung kegiatan PKM-PM di desanya. Kegiatan ini merupakan kegiatan pertama dalam memanfaatkan lahan sempit di desa Bungin. “Kami berterimakasih karena kegiatan ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kami juga berharap agar kelompok yang sudah dibina bisa menjadi contoh bagi masyarakat lainnya di desa Bungin,”terangnya.

Dosen Pembimbing, Dwi Mardhia, M.Sc selaku dosen pembimbing merasa bangga terhadap pencapaian mahasiswanya dalam mempertahankan prestasi di bidang PKM. Capaian tersebut bukanlah akhir dari perjuangan tim PKM MSP UNSA, perlu upaya ke depan dalam memperkuat tim PKM untuk menghadapi proses selanjutnya yaitu Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). “Saya berharap kegiatan PKM-PM yang sudah dilakukan bisa berkelanjutan dan memberi manfaat bagi pemenuhan gizi masyarakat desa bungin,”pungkasnya. (arn)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional