Mahasiswa Singapura asal Lombok, dan Impiannya Menjadi “Peace Maker” di Daerah Konflik

Singapura (suarantb.com) – Prestasi yang gemilang di negeri orang terus diukir generasi muda asal Lombok. Salah satunya,  wanita berumur 21 tahun asal Dusun Temayang, Desa Montong Betok, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur.

Namanya, Liya binti Badlin. Berkat keuletannya belajar, ia dapat terpilih menjadi salah satu perwakilan Indonesia yang mengenyam pendidikan di Singapura sejak 2014. Kisahnya bermula ketika menuntaskan bangku sekolah di SMAN 1 Sikur, Lotim. Liya kemudian masuk pada Yayasan Jusuf Kalla yang memiliki kerjasama dengan beberapa kampus di Asia, Eropa, dan Australia.

Iklan

“Saya di Fakultas FISIPOL. Itu berkat kerjasama kampus yang ada di Indonesia. Saya jurusan International Government,” ujarnya belum lama ini.

Dari Pulau 1000 Masjid ke Negeri 1001 Larangan, membuatnya merasakan hal yang baru. Berbagai pelajaran dan keragaman lintas agama dan budaya telah dirasakannya. Liya mengaku kagum dan kaget melihat keunikan di Singapura.

“Dulu rasanya luar biasa dan terkagum-kagum karena keindahan, kebersihan Singapura. Dan sempat shock juga karena banyak larangan sepele. Tapi kalau untuk sekarang udah biasa-biasa aja karena terbiasa,” ungkapnya.

Liya kini menetap di Wilayah Clementi Singapura. Impian terbesarnya adalah menjadi Pembawa Perdamaian (Peace Maker) di negara-negara yang sering terlibat konflik. Hal itu menurutnya adalah suatu pekerjaan pengabdian yang menantang.

“Saya ingin jadi Staf Peace Maker di negara konflik seperti Afganistan dan lainnya. Karena itu pekerjaan yang menantang. Bukan pekerjaan biasa,” jelasnya.

Di Singapura, Liya selalu merindukan Lombok. Keindahan Pulau Lombok yang eksotik bersama lembayung senjanya dan makanan khasnya, selalu melahirkan kerinduan. Menandakan sejauh apapun seorang berkelana, tidak akan hilang ingatannya tentang negerinya sendiri.

“Saya rindu semuanya. Saya rindu Pulau Lombok. Saya rindu makanan khasnya, karena saya hobi makan. Saya rindu pelecing kangkung dan sambal tongkolnya,” ujarnya sembari tertawa.

Ia mengatakan, banyak orang di Singapura yang selalu membicarakan Lombok. Gili Trawangan dan Pantai Pink, selalu didengarnya setiap bercakap dengan orang Singapura. Hal tersebut memang wajar, mengingat Lombok adalah surga bagi wisatawan.

“Tentu saja, Lombok terkenal dengan pantainya. Mereka sering kali menyebut nama Gili Trawangan dan Pantai Pink,” ucapnya.

Tidak hanya di Singapura, Liya juga telah mengunjungi beberapa negara di Benua Asia dan Eropa. Tempat yang paling berkesan baginya adalah Berlin, Ibu Kota Negara Jerman. Kota terbesar di Jerman itu menurutnya kaya akan keragaman. Ia kerap berjumpa sesama muslim di negara tersebut.

“Negara yang pernah saya kunjungi dan saya sukai adalah Jerman. Saya sangat menyukai Berlin, di mana saya dengan mudahnya menemukan makanan halal dan tegur sapa dengan sesama umat Islam,” kenangnya.

Meskipun di negeri orang, Liya selalu mengikuti setiap perkembangan di Pulau Lombok. Melalui berita online, Liya mengonsumsi berita regional di daerah asalnya, dan kerap kali berdiskusi kritis tentang kondisi perpolitikan dan aspek lainnya di NTB bersama temannya.
“Ya tetap, saya selalu memantau Lombok dari jauh. Contohnya melalui suarantb.com yang senantiasa share di facebook,” tutupnya. (szr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here