Mafia Tanah Kawasan Wisata Divonis Penjara 10 Tahun

Terdakwa pencucian uang hasil penipuan jual beli tanah kawasan wisata, H Zainudin saat mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Mataram beberapa waktu lalu.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Mafia tanah terdakwa pencucian uang, H. Zainudin alias H. Zen harus kembali merasakan sel penjara. Mantan terpidana penipuan Rp10 miliar ini terbukti bersalah menggunakan dan menyamarkan hasil kejahatannya. H Zen divonis penjara selama 10 tahun.

Ketua majelis hakim, R. Hendra membacakan putusan itu dalam sidang di Pengadilan Negeir Mataram, Kamis, 18 November 2021. “Menjatuhkan pidananya oleh karenanya terhadap terdakwa H. Zainudin dengan penjara selama 10 tahun,” ujarnya.

Iklan

Selain itu, H Zen pun dijatuhi pidana denda sebesar Rp1 miliar. Apabila tidak dibayar, maka wajib diganti dengan kurungan selama enam bulan. Putusan itu berdasarkan pembuktian pasal  3 UU RI No 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sebelumnya, H Zen juga dituntut penjara selama 15 tahun, dan denda Rp1 miliar yang apabila tidak dibayar maka harus diganti dengan kurungan selama enam bulan. Hakim juga memutuskan barang bukti digunakan dalam perkara lain, dalam hal ini untuk persidangan istri H Zen, Roheni.

Terpisah, jaksa penuntut umum Feddy Hantyo Nugroho mengatakan pihaknya belum bersikap terhadap putusan tersebut. “Masih pikir-pikir,” sebutnya.

H Zen terbukti menggunakan uang hasil pidana penipuan. Antara lain untuk membeli tanah, membayar fee penjualan tanah kepada pihak ketiga, membelikan istrinya emas, membiayai kegiatan partai, membeli barang elektronik, membayar uang muka pembelian dan pelunasan enam bidang tanah, dan memberi orang lain pinjaman dengan jaminan sertifikat tanah.

H Zen pun dituntut mengembalikan dan menyerahkan aset-aset yang dibeli dari hasil pencucian yang kepada korban Andry Setiadi Karyadi. Antara lain tanah hak milik seluas 1,4 hektare di kawasan Pantai Surga, Jerowaru, Lombok Timur; tanah hak milik di Buwun Mas, Sekotong Lombok Barat diantaranya seluas 1,6 hektare; 1,98 hektare; 1,99 hektare; 1,18 hektare; 0,52 hektare1,64 hektare; dan 10 hektare; dan di tanah hak milik di Prapen, Lombok Tengah.

Tindak pidana pencucian uang ini berawal dari terbuktinya pidana penipuan yang dilakukan H Zen. Pencucian uang dilakukan antara tahun 2011 sampai tahun 2014 dengan menarik tunai dan debet dengan total transaksi Rp15,36 miliar.

Uang berasal dari hasil menipu Andre Setiady Karyadi dalam jual beli tanah seluas 5,5 hektare di Pandanan, Sekotong Barat, Sekotong, Lombok Barat. Tanah yang dijual itu ternyata milik PT Graha Witasantika dengan bukti SHGB No40/Sekotong Barat. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional