Madu Trigona Sekotong Tembus Pasar Luar Negeri

Pembudidaya lebah trigona di Sekotong

LEBAH trigona atau disebut juga lebah klanceng merupakan salah satu jenis lebah yang diternakkan tanpa sengat . Budidaya lebah trigona tersebut akhir-akhir ini menjadi pilihan usaha ekonomi dan banyak dikonsumsi masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Madu trigona seperti juga madu hutan, mempunyai banyak manfaat karena kaya akan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Madu trigona ini juga mengandung senyawa protacatechuic acid (PCA), 4-hydroxyphenylacetic acid dan cerumen yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat meningkatkan proliferasi sel dalam proses penyembuhan luka.

Iklan

Selain mafaat tersebut, terdapat banyak manfaat lainnya, salah satunya untuk stamina pria. Madu trigona sudah cukup lama dikenal di masyarakat Sekotong, tetapi belum diketahui bernilai ekonomi sehingga sedikit  masayarakat yang tertarik untuk membudidayakannya, meskipun di beberapa daerah lain diwilayah Lombok, sudah terdapat komunitas masyarakat yang menjadikan madu trigona sebagai mata pencarian dengan menjual madu atau menjual koloni.

Tidak diketahui pasti siapa yang memulai membudidayakan pertama kali lebah trigona di wilayah Sekotong.Menurut penuturan salah seorang pembudidaya madu trigona, Mukhlis yang berasal dari Berambang Desa Batu Putih Kecamatan Sekotong, pada tahun 2017 ia mulai tertarik dan menekuni budidaya madu trigona setelah mendapatkan sedikit pengetahuan dari rekan kerjanya yang berasal dari Rumak-Kediri.

“Seorang teman bertanya sama saya, apakah ditempat saya ada lebah klanceng, saya menjawab sangat banyak, lalu teman saya bilang bahwa madu lebah klanceng mempunyai nilai jual tinggi seperti madu hutan membudidayakannya juga tidak terlalu sulit” ceritanya kepada media ini.

Sejak saat itu, berbekal pengetahuannya yang masih minim serta belajar secara otodidak, Mukhlis mulai fokus melakukan “perburuan” koloni lebah madu trigona di hutan-hutan dekat rumahnya. Ia lalu belajar cara memindahkan koloni dari habit aslinya ke habitat buatan (mencangkok-red) sehingga terdapat ratusan koloni buatan berupa boks yang terbuat dari tripleks di rumahnya.

Mukhlis mengungkapkan bahwa permintaan pasar madu trigona atau madu klanceng ini masih tinggi, ditambah lagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang menuntut semua orang untuk menjaga imun, menjaga tubuh agar tetap sehat dengan mengkonsumsi makanan yang bernutrisi.

“Puncak permintaan madu trigona terjadi awal tahun 2020, stok yang ada bahkan tidak mencukupi permintaan pasar lokal sekitaran Lombok, saya   bahkan mengambil madu dari masyarakat-masyarakat di luar dusun saya tetapi tetap permintaan pasar tak bisa kami penuhi” ungkap Mukhlis.

Sejak 2017 lalu, Mukhlis menjadikan ternak madu trigona sebagai hobi baru yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Ia juga mengajak masyarakat di sekitarnya untuk ikut membudidayakan madu trigona dengan membagikan pengalaman yang didapatkannya secara cuma-cuma, dengan harapan masyarakat di sekitarnya mempunyai penghasilan lebih untuk menutupi kebutuhan dapur serta biaya pendidikan anak-anak mereka.

“Coba bayangkan saja, beternak madu trigona ini jika mempunyai 100 koloni dan secara bergantian memanen 10 boks secara bergantian dengan asumsi mendapatkan 5 botol lalu dijual dengan harga Rp 230.000 dalam kurun waktu 45 hari sampai 60 hari, sudah berapa uang yang bisa dihasilkan?” jelasnya.“Ini bisa menjadi mata pencarian baru masyarakat di tengah kebingungan mereka memenuhi kebutuhan hidup akibat pandemi ” ucapnya lebih lanjut.

Sementara itu, pegiat pariwisata, Zulhadi yang sudah terjun dalam budidaya lebah trigona sejak tahun 2012 mengaku memulai budidaya lebah trigona hanya dengan 1-2 koloni yang dicarinya langsung dari hutan. Dengan merek dagang MASKOT (Madu Sekotong) ia sudah menembus pasar nasional bahkan mancanegara dengan market individu di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Maroko bahkan Jerman.

Bahkan dalam waktu dekat, ia masih mempersiapkan untuk masuk ke  toko oleh-oleh produk Indonesia di Jepang. Ia sampai saat ini sudah mempunyai 400 boks koloni madu trigona dengan produksi 40-45 botol ukuran 500 ml atau setara dengan 20  liter madu lebah trigona.Berternak lebah trigona ternyata tidak hanya ada di Desa Batu Putih di Kecamatan Sekotong, tetapi juga terdapat di Desa Pelangan, Desa Kedaro, Desa Sekotong Barat, Desa Cendi Manik, Taman baru, dan Desa Buwun Mas. (her)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional