LPBI NU Gelar Pelatihan Pengelolaan Risiko Bencana dan Luncurkan Film tentang Penanggulangan Covid-19

LPBI NU Gelar Pelatihan Pengelolaan Risiko Bencana digelar secara daring. Pelatihan yang digelar mulai 28-31 Juli oleh LPBI NU ini didukung oleh DFAT Australia melalui SIAP SIAGA Palladium. (suarantb.com/ist)

Mataram (suarantb.com) – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdatul Ulama (LPBI NU) menggelar pelatihan pengelolaan risiko bencana pada program penguatan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi coronavirus disease 2019 (Covid-19) dan bencana alam (PKMM – CBA). Pelatihan ini sekaligus peluncuran film penanggulangan bencana.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 31 orang. Terdiri dari tim pelaksana program dari Kabupaten Lamongan, Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Pasuruan, Malang, Kotamadya Kediri (Jawa Timur), Kabupaten Buleleng (Bali) dan Kabupaten Lombok Barat (Nusa Tenggara Barat. Selain itu, peserta pelatihan juga berasal dari tim pusat program.

Iklan

Pelatihan yang digelar mulai 28-31 Juli oleh LPBI NU ini didukung oleh DFAT Australia melalui SIAP SIAGA Palladium. Perwakilan SIAP SIAGA Palladium, Kristanto Sinandang menyampaikan, program kebencanaan SIAP SIAGA di antaranya mendukung program Desa Tangguh Bencana (Destana) berbasis kesejahteraan dan standar pelayanan minimun.
Program Destana ingin mengembangkan model universal, sehingga lebih akomodatif. Destana berbasis kesejahteraan juga ingin mengisi lebih lanjut urusan ekonomi, penghidupan wacana yang sedang dikembangkan adaptif social protection. “Semoga pelatihannya lancar tentunya hasilnya untuk peningkatan kapasitas program, puncaknya bisa memberikan manfaat kepada masyarakat yang dilayani,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua LPBI NU PBNU, M. Ali Yusuf mengatakan, pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada seluruh pelaksana program, agar dapat mempromosikan dan mengajak semua pihak untuk mendukung upaya pengurangan risiko bencana, sehingga setiap potensi ancaman bencana bisa ditangani dan dampak bencana bisa diminimalisir.

LPBI NU Gelar Pelatihan Pengelolaan Risiko Bencana digelar secara daring. Pelatihan yang digelar mulai 28-31 Juli oleh LPBI NU ini didukung oleh DFAT Australia melalui SIAP SIAGA Palladium. (suarantb.com/ist)

Program PKMM-CBA yang dilaksanakan oleh LPBI NU ini berbasis RW dan menyasar langsung rumah tangga atau keluarga. Lingkup program meliputi kampanye publik untuk memperkuat upaya pencegahan Covid-19 berbasis masyarakat termasuk melalui rumah ibadah, pembuatan update data warga terpilah berbasis geospasial, penyediaan dan pemanfaatan fasilitas pendukung pelaksanaan protokol kesehatan termasuk fasilitas karantina berbasis RW. Selain itu, program PKMM-CBA juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang paling terdampak Covid-19.

Pada saat penanganan Covid-19, lanjutnya, banyak kejadian bencana melanda berbagai daerah di Indonesia. Misalnya banjir berkepanjangan di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Sulawesi Barat, gempa di Malang dan sekitarnya serta siklon seroja di NTT.

Menurut Ali, program PKMM-CBA melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk melakukan identifikasi ancaman bencana di level desa berikut upaya PRB yang harus dilakukan. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk menyusun standar operasional prosedur (SOP) penanganan darurat saat pandemi di level desa.“PRB merupakan bagian penting ajaran Islam, PRB merupakan bagian inti ajaran Islam. PRB jelas perintah ajaran Islam. Dalil agama-agama sudah banyak tinggal pelaksanaan yang perlu ditingkatkan,” imbuhnya.

Sementara Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Andi Najmi Fuaidy menegaskan pentingnya kolaborasi dan sinergi berbagai pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana. Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat saling berbagi informasi dan berdiskusi serta menemukan solusi untuk mengurangi dampak bencana.

Menurut Andi, bencana kesehatan yang sedang berlangsung bisa didekati secara sains. “Kita diberi akal dan pengetahuan untuk mendekati dan menangani COVID-19. Kita tidak boleh mempertentangkan kehendak Tuhan yang satu dengan yang lain selama memahaminya dengan benar. Pemerintah tidak bisa sendiri dalam menangani pandemi, harus berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk ormas,” tambahnya.

Seperti diketahui, pelatihan ini menghadirkan beberapa narasumber yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Diantaranya, Pengantar Penanggulangan Bencana disampaikan oleh Catur Sudiro. Kajian Risiko Bencana Partisipatif dan Pengorganisasian Masyarakat oleh Mart Widarto.Isu Lapis Sanding dalam Pengelolaan Risiko Bencana oleh Agatia W dan Risa Yudhiana dan Perangkat Kajian Risiko Bencana Partisipatif oleh Petrasa Wacana.

Pada saat pembukaan pelatihan juga dilakukan peluncuran film pendek berjudul MELAWAN PANDEMI: Belajar dari Masyarakat di 9 (Sembilan) Kabupaten/Kotamadya, di 3 (tiga) Provinsi, di Indonesia. Film ini merupakan film dokumenter yang merangkum pelaksanaan program Penguatan Ketangguhan Masyarakat dalam Menghadapi COVID-19 dan Adaptasi Kebiasaan Baru (PKMM Covid-19) yang dilaksanakan pada Juli 2020 – Maret 2021.

Film tersebut merupakan dokumen berharga yang dapat dijadikan pembelajaran bagi semua pihak untuk memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi Covid-19 dan adaptasi kebiasaan baru melalui berbagai upaya pencegahan Covid-19 berbasis masyarakat dan pemberian dukungan kepada masyarakat yang paling terdampak Covid-19. (cem/r)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional