Lotim Tidak Bisa Branding Event “Bau Nyale”

Kegiatan seremoni event Bau Nyale di Pantai Batu Dagong Kecamatan Jerowaru, Jumat, 14 Februari 2020. (Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB) – Kegiatan Bau Nyale sejak lama dilakukan masyarakat Kabupaten  Lombok Timur (Lotim). Namun, Lotim tidak bisa branding bau nyale sebagai bagian dari kalender wisata dikarenakan sudah dimiliki Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lotim, Dr. H. Mugni, menjelaskan kegiatan bau nyale merupakan budaya yang sudah turun temurun di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Lotim di bagian selatan.

Iklan

Dikarenakan sudah melekat di masyarakat, event bau nyale tetap akan dilestarikan, yakni di beberapa tempat yang ada di tiga desa. Yakni tempat di Kabupaten Lotim, yakni Pantai Kaliantan, Pantai Kura-Kura, Pantai Batu Dagong. Di lokasi ini, Bau Nyale tetap berjalan alamiah. Peran pemerintah hanya mendorong kesuksesannya.

Seperti yang digelar bersama Desa Kuwang Rundun dan Desa Ekas Buana yang menggelar bersama event bau nyale di Pantai Batu Dagong. Pelaksana memastikan keamanan dan kebersihan lokasi acara. Menurutnya, ada atau tidak adanya dukungan dari pemerintah, kegiatan bau nyale tetap terlaksana. Masyarakat yang melaksanakan dan keputusan sendiri dari para tokoh masyarakat.

Soal waktu bau nyale kapan waktu keluarnya ditetapkan dengan penanggalan Sasak. “Beda beda waktu keluarnya nyale setiap tahun, kita susah menjelaskan kapan waktu keluar nyale,” kata Mugni.

Ketua Panitia Wonderful Kura-Kura yang dirangkai dengan Bau Nyale di Batu Dagong Sohibul Bayan di lokasi acara Pantai Batu Dagong, Jumat mengaku kebingungan  soal nyale. Pertama soal penanggalan nyale untuk menentukan gelaran evetn dirasa sangat kesulitan. Hal ini tampak di lokasi acara seremonial acara sudah tak ada lagi warga yang akan tangkap nyale.

Dikatakan, bau nyale itu dilaksanakan dalam penanggalan Sasak jatuh pada bulan 10. Namun dalam penentuan hari pelaksanaannya masih membingungkan bagi panitia.

Kegiatan bau nyale kata Sohibul digelar selama ini di tiga desa di kecamatan Jerowaru. Yakni Kaliantan Desa Seriwe, Pantai Kura-Kura Desa Ekas Buana dan Batu Dagong Desa Kuang Rundun dengan lokasi acara seremoni di Pantai Kura-Kura, Batu Dagong ini diminta bisa ditetapkan oleh pemerintah sebagai tanah adat. “Berikan warga hak ulayat agar setiap tahun bisa kami gelar kegiatan bau nyale,”  pintanya. (rus)