Lotim Terkendala Kurangnya Ratusan Fasilitator dan Aplikator

HUNTARA - Keberadaan huntara yang ada di Sembalun. Namun, masyarakat yang jadi korban gempa mengharapkan huntap segera dibangun, sehingga kehidupan bisa kembali normal. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini tengah fokus penanganan dampak bencana gempa di Sembalun, Sambelia dan Pringgabaya. Hanya saja, kendala pertama yang dihadapi saat ini masih kekurangan fasilitator dan aplikator.

Plt. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim, H. Lukmanul Hakim, menjelaskan, kebutuhan Lotim harus lebih dari 500 fasilitator. Sedangkan jumlah yang ada saat ini sebanyak 125 fasilitator. Untuk memenuhi kebutuhan Lotim terkait fasilitator, pemerintah pusat dari Kementerian PUPR akan melakukan seleksi sebanyak 1.200 fasililator untuk didistribusikan ke kabupaten/kota di NTB.

Iklan

Jumlah yang diseleksi itupun dinilai masih kurang sekitar 1.200, maka dari itu Pemprov NTB bekerjasama dengan pemkab/pemkot akan melakukan seleksi fasilitator sekitar 1.000 orang dengan memanfaatkan tenaga lokal yang ada. Untuk yang diseleksi oleh pemprov akan memberdayakan tenaga-tenaga lokal yang ada di perguruan tinggi, terutama Jurusan Teknik Sipil, sehingga kebutuhan fasilitator cepat dan itu akan membantu. “Omong kosong kalau fasilitator kurang lalu penanganan cepat,”ujarnya.

Lukman mengungkap, keberadaan fasilitator sangat penting mulai dari melakukan pendataan, pendampingan dan pembentukan pokmas serta membantu masyarakat untuk mencairkan uangnya. Selain fasilitator, yang menjadi kendala juga yakni kekurangan aplikator di Lotim yang memiliki kemampuan. Saat ini ada beberapa aplikator yang ada di Kabupaten Lotim, diantara Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha), Ruma Instan Kayu (Rika), Riko dan Risba, RCI dan RCR yang diantara sudah melalukan sosialisasi. Sementara yang sudah mulai melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan KK hanya Risha. Namun setelah MoU tersebut, fakta di lapangan kemampuannya untuk mengeksekusi tanggung jawabnya tidak bisa.

  “Dari awal masyarakat sudah dibebaskan untuk memilih. Namun yang paling awal menawarkan diri adalah Risha. Tapi kita akui ini disebabkan karena kelalaian kita di tingkat kabupaten menyelesaikan pendataan dan siapnya aplikasi dalam mengeksekusi apa yang menjadi tanggung jawabnya,”ujarnya.

Disampaikan lebih jauh, posisi saat ini yakni masa transisi darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi korban gempa Lombok dan Sumbawa. Adapun tahapan-tahapan pekerjaan yang dilakukan hingga saat ini dari tanggap darurat, transisi darurat dan saat ini masuk dalam tahap rehabilitasi rekonstruksi. (yon)