Lotim Punya 91 Desa Wisata

Bupati Lotim H. M. Sukiman Azmy menyerahkan SKdesa wisata kepada perwakilan kepala desa di objek wisata Embulan Borok Anjani, Kamis, 16 September 2021. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur (Lotim) H. M. Sukiman Azmy menetapkan 91 jumlah desa wisata dari 239 desa di Lotim. Secara simbolis, Surat Keputusan (SK) Desa Wisata ini diserahkan langsung kepada para kepala desa di sela acara peresmian Objek Wisata Embulan Borok Desa Anjani,  Kamis, 16 September 2021.

Bupati menjelaskan, desa wisata yang ditetapkan itu ada tiga kategori, yakni Desa Wisata  Mandiri, Desa Wisata Maju dan Desa Wisata Berkembang. Hal ini sesuai dengan syarat dan ketentuan yang diatur Kemenerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Iklan

Desa-desa wisata di Lotim diharapkan bisa memiliki ciri khas. Seperti Desa Anjani diminta bupati ke depan bisa dijadikan Kampung Arab. Langkah Pemkab Lotim telah menjadikan Desa Tetebatu Selatan menjadi Kampung Inggris ini telah terbukti dan bisa melahirkan generasi-generasi yang pandai berbahasa Inggris. Saat sudah terwujud menjadi Kampung Arab, maka Anjani selain menjadi tujuan wisata kolam renang, juga menjadi destinasi wisata PendidikanBahasa Arab. “Jadi masyarakat kita tidak perlu jauh-jauh mau belajar Bahasa Arab,” kata bupati.

Kepada para kepala desa diminta berinovasi membangun desa masing-masing. Bupati Sukiman mengaku sangat salut dengan kepala desa yang punya ide brilian. “Inovasi dan kerjasama desa dengan instansi terkait, Anjani bisa jadi ikon baru destinasi wisata,” sebutnya.

Kepala Dinas Pariwisata, Dr. H. Mugni mengatakan, Lotim merupakan daerah dengan destinasi yang sangat lengkap. Mulai dari pantai, pegunungan, bukit, alam, budaya dan agamanya. Termasuk objek wisata buatan.

Dalam UU Nomor 10 tahun 1999 tentang kepariwisataan, sasaran pembangunanwisata adalah industri, promosi dan kelembagaan. Untuk itu, ujarnya, dalam membangun sektor jasa ini perlu kolaborasi. Apalagipariwisata  ke depan bisa menjadi sumber kehidupan. “Bangun pariwisata dengan tri sila. Lestarikan alam kokohkan budaya dan taati norma,” ujarnya.

Pariwisata diyakini bisa menajdi sumber kehidupan masyarakat dan sumber pendapatan bagi pemerintah. Karenanya, kata Mugni, datang ke tempat wisata tidaklah gratis, sehingga masuk objek wisata harus bayar.

Dalam berbagai kajian, pengembangan wisata ke depan kembali ke alam. Termasuk kembali ke desa wisata. Pemerintah menyadari keberadaan desa wisata, sehingga perlu terus dikembangkan. Lotim sejak awal hanya beberapa desa wisata. Penetapannya dulu hanya dengan Surat Keputusan kepala dinas. Sekarang, sudah melalui  keputusan bupati.

Dijelaskannya, prinsip dasar membuat desa wisata adalah adanya daya tarik destinasi yang ada di desa. Ada atraksi adat budaya, seni dan lainnya. Ada juga kelompok sadar wisatanya. “Desa-desa yang sudah ditetapkan menjadi desa wisata diharapkan memiliki master plan dalam pengembangan objek wisata desa,” sarannya. (rus)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional