Lotim, Gudang Desa Wisata di NTB

Salah satu aktivitas wisatawan saat berkunjung ke Desa Tetebatu adalah ngerampek (panen) bersama warga setempat. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Lombok Timur (Lotim) sebagai gudang desa wisata seperti yang disampaikan Wakil Gubernur  (Wagub) NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah sangat beralasan. Pasalnya, Lotim memang kaya dengan khasanah wisata dengan tampilan desa sebagai destinasinya.

Tetebatu adalah salah satu dari 254 desa dan kelurahan yang ada di Lotim yang masuk dalam daftar 25 desa wisata yang sudah ditetapkan Dinas Pariwisata Provinsi NTB. Terbilang memang sudah cukup lama, Desa Tetabatu dan desa-desa sekitarnya sepetri Tetebatu Selatan, Kembang Kuning dan Jeruk Manis menyuguhkan sajian wisata.

Iklan

Wisatawan yang berkunjung ke Desa Tetebatu ini akan disuguhkan menu berwisata yang unik. ‘’Wisatawan kami ajak menjadi ‘’orang Sasak’’,’’ ujar Ketua Asosiasi Homestay Lotim, Bram Ramli kepada Suara NTB, Jumat, 7 Desember 2018 kemarin.

Di desa-desa di sekitar Tetebatu sudah banyak bermunculan tempat-tempat penginapan untuk wisatawan. Tempat menginap tidak seperti layaknya hotel. Tapi wisatawan langsung menginap di rumah-rumah penduduk.

Bram Ramli bersama teman-temannya ini sudah mencoba membuat produk jualan kepada wisatawan dengan istilah Kampung Homestay Cummunity. Kampung Homestay ini katanya, dibentuk dengan jaringan homestay berbasis komunitas yang menghubungkan wisatawan global.

Sesuai namanya, kampung, pelaku wisata ini menampilkan wajah asli Lombok kepada para wisatawan. Sudah ada situs resmi yang dijual kepada para wisatawan. Kampung Homestay ini disebut bisa menjadi pengalaman unik para wisatawan yang datang berwisata ke Desa Tetebatu.

Terhadap semua turis yang datang dijadikan teman. Wisatawan bergaul langsung dengan warga sekitar. Seperti tidak ada jarak pembatas.  ‘’Wisatawan itu tak  sekadar jadi turis, tetapi sebagai tamu dan teman,’’ ungkap Bram Ramli.

Selama wisatawan tinggal di homestay, langsung membaur dengan keluarga. Mereka menjadi keluarga angkat. Ada beberapa suguhan kegiatan menarik yang ditampilkan pelaku wisata desa ini kepada semua tamu.

Diantaranya, wisatawan bisa turut berpartisipasi dalam festival lokal, perayaan dan pekerjaan sehari-hari warga desa. ‘’Ini adalah kesempatan luar biasa untuk mendapatkan pengalaman cara hidup yang benar-benar berbeda, jauh dari kesibukan gila dunia,’’ katanya.

Diterangkan, sebagian besar pemilik homestay adalah wanita dan ibu rumah tangga. Salah satu tujuan mendasar utama dibentuk komunitas tersebut adalah untuk menginspirasi masyarakat lokal dan pribumi untuk berinteraksi dengan dunia luar melalui media pariwisata.

Komunitas homestay diharapkan bisa menjadi platform bagi perempuan dan komunitas lokal Tetebatu untuk menghasilkan peluang ekonomi berkelanjutan. Ini sebagai bagian dari pariwisata yang bertanggung jawab. Komunitas tersebut juga bisa sebagai media yang bagus untuk menukar ide dan keterampilan wisatawan dengan komunitas lokal.

‘’Banyak dari homestay kami mendukung sekolah desa dan pusat pembelajaran mereka sendiri dari surplus yang mereka hasilkan dari proyek homestay,’’ katanya. Kesempatan wisatawan datang ke kampung homestay juga bisa melakukan interaksi pendidikan. Wisatawan bisa menjadi sukarelawan untuk mengajar di salah satu sekolah. Wisatawan diajak membantu pembangunan kembali ruang kelas rusak akibat gempa bumi. Atau bantuan hanya dengan berbagi ide-ide  tentang kesehatan, pendidikan, dan kesehatan kepada  masyarakat setempat. (rus)