Lotim Akui Penerapan ‘’Smart City’’ Belum Maksimal

Ahmad Masfu. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Keberadaan smart city atau kota pintar yang dikembangkan oleh Pemkab Lombok Timur (Lotim) belum maksimal dalam penerapannya. Sejauh ini keberadaan smart city belum dirasakan seutuhnya. Maka dari itu, Pemda Lotim melalui Dinas Kominfo dan Persandian Lotim terus melakukan berbagai inovasi.

Menurut Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Lotim, Ahmad Masfu mengatakan, selama ini pemahaman akan smart city lebih kepada teknologi, melainkan smart city melakukan inovasi yang lebih baik dari sebelumnya. ‘’Misalnya untuk di rumah sakit dari sebelumnya harus mendaftar, namun saat ini menggunakan kartu antrean. Inilah merupakan salah satu inovasi,’’ ujarnya, Senin, 9 Maret 2020.

Iklan

Akan tetapi, diakuinya bahwa dalam pengembangan smart city ini belum terkoordinir dengan baik. Sehingga dari dibentuknya dewan smart city akan diaktifkan kembali yang isinya dari kepala daerah sampai kepala-kepala OPD dan pada bulan Juni 2020 akan dilakukan evaluasi.

Smart city atau smart regency ini bagaimana fokus pada sebuah kawasan yang memberikan pelayanan berbasis IT dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan terutama dalam suatu pemerintahan. Sementara untuk di Kabupaten Lotim belum siap, karena SDM yang sangat minim serta infrastruktur yang sangat-sangat kurang. Kendati demikian, penghentian smart city ini tidak mengganggu pemantauan pada setiap kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing OPD berbasis IT,” ujarnya.

Dikatakan Ahmad Masfu, pengembangan smart regency di Kabupaten Lotim tetap menjadi tujuan. Untuk itu pada tahun 2020 akan dianggarkan secara maksimal apa-apa yang belum dimiliki. Di samping anggaran dari pusat, dianggarkan juga dari pemerintah daerah yang memiliki area bad signal (sinyal yang buruk), seperti di kawasan pegunungan dan pantai. Sehingga inilah yang diminta ke provider untuk memasang dan memperpanjang jangkauan BTS supaya masyarakat dapat terlayani dengan teratasi sinyal-sinyal yang buruk. (yon)