Lotim akan Siapkan Sekolah bagi Penyandang Difabel

Ilustrasi Sekolah. (Wikimedia Commons)

Selong (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur, H. M. Sukiman Azmy memerintahkan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) untuk membuat sekolah  bagi para penyandang difabel. Bupati minta lokasi-lokasi sekolah yang dipilih merupakan tempat yang mudah dijangkau. Hal ini ditegaskan Bupati Lotim dalam rapat koordinasi Senin, 3 Februari 2020 yang dikutip Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (PKP) Sekretariat Daerah Kabupaten Lotim, Iswan Rakhmadi.

Dalam rilisnya, Iswan menyampaikan, rencana penyediaan fasilitas  sekolah ini merupakan tindak lanjut pascabertemu dengan para pegiat sosial beberapa waktu lalu. Bupati Lotim berjanji untuk memberikan perhatiannya kepada para penyandang difabel. Sekolah luar biasa (SLB) saat ini diketahui jumlahnya sangat terbatas. Disamping itu lokasinya di Selong dan Sakra diangap terlalu jauh untuk dijangkau bagi para penyandang difabel yang berasal dari luar Sakra dan Selong. Menurut Bupati, setidaknya ada di wilayah selatan, wilayah tengah dan wilayah utara.

Iklan

Bupati kembali mengingatkan agar tidak ada lagi sekolah yang mengeluarkan siswa difabel. Siswa yang telah dikeluarkan diminta untuk dipanggil kembali. Orang nomor satu di Lotim ini menegaskan, tidak boleh bersikap diskriminatif terhadap difabel. “Perlakukan difabel dengan baik, jangan sampai mengaburkan masa depan mereka dengan ketidakberpihakan kita,” ungkapnya.

Pilihan lokasi tempat membangun sekolah kataya bisa dengan memanfaatkan aset milik pemerintah daerah Kabupaten Lotim. Diperintahkan juga agar langsung mencari guru yang sesuai bagi kebutuhan siswa difabel.

“Cari anaknya, cari gurunya, cari lokasinya, nanti kita laporkan ke provinsi, untuk diserahkan ke provinsi,” tegas Bupati. Diketahui saat ini kewenagan sekolah luar biasa (SLB) menjadi ranah pemerintah provinsi. Sebelumnya, salah seorang pegiat sosial dari Lombok Disability Centre, Lalu Wisnu, mengungkapkan perhatian terhadap para difabel masih sangat minim. Aktivitas advokasi yang dilakukannya sejauh ini telah menemukan fakta di lapangan para penyandang difabel kurang mendapatkan perhatian. Bahkan cenderung di lupakan oleh pemerintah.

Hak mendapatkan pendidikan para penyandang difabel juga dianggap masih sangat minim. Tergambar dari jumlah sekolah luar biasa yang menampung para penyandang difabel di Kabupaten Lotim sangat terbatas. (rus)