Longsor di Tiga Titik, Lima Proyek Penataan Kawasan Wisata Senggigi Diusut Polisi

Proyek penataan kawasan wisata Senggigi tahun 2020 yang mengalami longsor di tiga titik, mulai diusut Kepolisian.(Suara NTB/why/her)

Mataram (Suara NTB)Proyek penataan kawasan wisata Senggigi tahun 2020, longsor di tiga titik. Baru dua bulan selesai dikerjakan, tiga lokasi pekerjaan proyek ambrol terdampak cuaca. Polda NTB melebarkan penyelidikan sampai ke seluruh proyek yang ditender pada Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat tersebut.

Awalnya, penyelidikan hanya pada titik proyek yang longsor, yakni penataan kawasan sekitar Kafe Alberto, dan kawasan sekitar Hotel Sheraton. “Tiga di kita, dua di (Polres) Lobar,” ungkap Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana, Rabu, 24 Februari 2021.

Iklan

Tim penyidik sudah diterjunkan untuk cek lokasi. Fokusnya masih pada pentahapan pelaksanaan pekerjaan proyek sesuai dengan prosedurnya. “Sudah benar atau tidak. Misalnya, di jalan nasional itu sudah pernah ada pembangunan. Kalau ditambah dengan pembangunan lagi apa sudah dihitung apa tidak. Itu kita mau cek,” tegasnya.

Pada tahun 2020, Dispar Lombok Barat mendapat anggaran Rp 9,974 miliar untuk pekerjaan revitalisasi kawasan pariwisata Senggigi. Sumber anggarannya dana pinjaman daerah melalui Bank NTB yang dialokasikan pada APBD untuk Dispar Lobar.

Penyelidikan Polda NTB antara lain pada proyek penataan rest area kawasan Hotel Pasific yang dikerjakan dengan kontrak senilai Rp1,63 miliar. Proyek ini dikerjakan CV WD. ‘’Yang baru kemarin longsor itu (penyelidikan), di kita (Polda NTB),’’ kata Eka.

Kemudian, penataan kawasan wisata Batu Bolong dikerjakan PT PN dengan nilai kontrak Rp1,26 miliar. Serta proyek penataan kawasan wisata Makam Batulayar dikerjakan dengan nilai kontrak Rp2,65 miliar oleh PT NAP.

Sementara yang ditangani Polres Lombok Barat yakni, proyek penataan rest area kawasan sekitar Alberto yang dianggarkan dengan pagu Rp2,2 miliar. Proyek ini dikerjakan CV AP dengan harga penawaran Rp1,8 miliar.

Kemudian, proyek penataan rest area kawasan sekitar Hotel Sheraton. Proyek ini digelontorkan dengan pagu anggaran Rp3 miliar. Yang kemudian dikerjakan PT SJU. Harga penawarannya Rp2,62 miliar.

“Proyek itu masih dalam tahap pemeliharaan. Jadi kita dorong dia untuk memperbaiki jangan sampai menunggu nanti ada korban. Dia mau perbaiki atau tidak itu urusannya dia,” jelasnya.

Penyelidikan ini, sambung Eka, merupakan respons cepat atas kondisi pekerjaan proyek yang berpotensi menimbulkan korban. Meskipun belum sampai melangkah ke pengusutan indikasi tindak pidana korupsinya.

“Kalau sudah FHO (Final Hand Over) kita cari dugaan korupsinya. Kalau masih perawatan, tidak bisa. Masih tanggungjawab rekanan untuk pemeliharaannya,” jelas Eka.

Eka mengatakan, meski demikian rekanan pelaksana dan pemilik proyek dalam hal ini Dinas Pariwisata Lombok Barat diklarifikasi. Bahkan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTB juga akan dimintai keterangan.

“Tidak semata tanggung jawab Dispar (Lobar). Proyek itu kan di pinggirnya jalan nasional. Nanti koordinasinya dengan Balai Jalan seperti apa. Memang ada pembangunan di sana tapi jangan meninggalkan permasalahan,” terangnya. (why)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional