Wisatawan ke Tiga Gili, Salah Paham Masih Terjadi

0
23
Dua wisatawan yang dicegah masuk ke gili oleh salah satu petugas pelabuhan. Padahal, wisatawan ini masuk lewat bandara. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Mispersepsi atau salah paham terkait buka tutup akses masuk tiga Gili masih terjadi. Tidak terkecuali di tataran pelaksana kepelabuhanan.

Sebagaimana video yang beredar, salah seorang staf Syahbandar Pelabuhan Bangsal, Pemenang, terlihat mencegah wisatawan yang hendak menyeberang ke Gili. Padahal, kedua wisatawan asing itu mengakses Lombok melalui Lombok International Airport (LIA). Mereka tidak datang ke Bangsal melalui jalur yang ditutup pemerintah, yakni fastboat langsung Bali – Lombok.

“Saya tidak boleh ke Gili dan harus pulang?” tanya wisatawan kepada petugas Syahbandar di Pelabuhan Bangsal sebagaimana video yang beredar.

Menyikapi persoalan itu, pengusaha Gili, H. M. Taufik, menyayangkan masih dicegahnya wisatawan masuk ke Gili setelah melalui screening di BIL. Ia meminta, agar setiap staf dari instansi yang berwenang mempunyai persepsi yang sama terhadap akses masuk Gili.

Mantan Kepala Dusun Trawangan ini berpendapat, akses masuk tidak harus diperketat khususnya bagi wisatawan yang datang melalui BIL atau Pelabuhan Lembar. Pihaknya juga berharap screening di pintu masuk Bangsal ditambah untuk mendukung pencegahan.

“Kalau kami sederhana, posko screening diperbanyak. Bila perlu beri tahu kami harga alatnya, biar kami belikan,” cetusnya.

Menurut Taufik, pihaknya juga berkepentingan untuk menjaga keselamatan masyarakat, sehingga tidak masalah baginya, jika pengusaha Gili ikut berkontribusi dengan catatan akses masuk tidak disikapi dengan panik.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan KLU, dr. H. Lalu Bahrudin, menyebut permintaan masyarakat agar disiapkan posko sreening Covid-19 di masing-masing Gili cukup sulit dipenuhi. Selain kekurangan alat, Pemda juga kekurangan tenaga.

“Untuk posko screening di Gili, masih bisa kita layani melalui pustu. Masyarakat atau warga asing sebisa mungkin diarahkan ke petugas yang ada di pulau,” ujarnya.

  Pengembalian dari Kerugian Proyek Capai Rp 1,9 Miliar

Ia melanjutkan, untuk sementara screening terpusat di Bangsal dengan perpanjangan waktu pelayanan. Semula pengunjung di-screen sampai pukul 12 siang, ditambah menjadi pukul 5 sore. Awalnya pemeriksaan hanya mengarah untuk penumpang kapal cepat. Seiring kebijakan, pemeriksaan meluas kepada pengunjung yang masuk dan keluar Gili. “Alhamdulillah kasus untuk KLU belum ada. Kewaspadaan kita tingkatkan, tapi tidak boleh panik,” ujarnya.

Upaya lain yang disiapkan adalah, menyiapkan dua ruang isolasi di RSUD KLU. Terkait ruangan itu, sudah dilakukan pengecekan agar sesuai standar. “Masker memang kita juga kesulitan. Kemarin kita stok 16 ribu sudah tersalur semua melalui puskesmas,” tambahnya. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × two =