Beranda Lombok Utara Bupati KLU Akui Hadapi Banyak Persoalan Menyangkut Gili

Bupati KLU Akui Hadapi Banyak Persoalan Menyangkut Gili

Najmul Akhyar (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU), Dr. H. Najmul Akhyar, SH., MH., mengakui menghadapi banyak persoalan menyangkut pariwisata tiga Gili dan Lombok Utara pada umumnya. Persoalan itu tidak hanya pelayanan tetapi juga belum maksimalnya setoran ke daerah dalam bentuk pajak dan retribusi.

“Banyak persoalan yang kita hadapi, termasuk keluhan tamu berkaitan dengan pelayanan baik di Bangsal dan Dermaga Teluk Nara,” kata bupati sebelum peluncuran e-tiket Kamis, 21 Januari 2020.

Keluhan tamu sebagaimana dicontohkan bupati, di mana dirinya mendapat curhat dari wisatawan. Jamak berlaku di Bangsal, bahwa wisatawan dengan barang bawaan yang banyak menjadi “objek” para porter.

Di mana, ujarnya, oknum porter yang menawarkan jasa angkut barang wisatawan terkesan sudah menskenariokan pelayanan yang membebani tamu. Sejak wisatawan turun dari kendaraan, oknum porterlangsung membantu mengangkat barang ke lokasi pembelian tiket. Setelah pembelian tiket, barang wisatawan tadi diangkut oleh porter yang lain. Begitu naik ke boat, muncul porter lain lagi yang mengangkat barang.  “Jadi di atas boat, ada  4 orang yang minta jasa,” imbuhnya.

Dengan mekanisme e-ticket yang telah diluncurkan kemarin, pihaknya berharap dapat mengatasi persoalan yang selama ini meresahkan wisatawan. Bahkan harap bupati, tidak ada lagi mafia yang sampai bernegosiasi harga tiket di atas boat.

“Saya pernah dapat cerita, begitu tamu naik boat, kapten boat minta tambahan ongkos. Tamu katakan, tidak bisa, saya komplain, karena tadi kita sudah bayar ongkos sekian. Kalau begitu silakan bapak turun. Padahal itu di tengah laut,” ujar bupati miris menirukan cerita yang didapatnya.

Bagi Najmul, persoalan pariwisata telah ditemukan benang merahnya. Bahwa ternyata, ketidakteraturan yang berlebihan dan tidak diperbaiki menyebabkan pelayanan menuju tiga Gili terus menerus dikeluhkan. Dampaknya pun dirasakan oleh daerah, kebocoran retribusi dan pajak konsumen tidak mengalir optimal ke kas daerah.

Destinasi wisata KLU, sambung dia, sudah terkenal ke seluruh dunia. Kunjungan wisatawan per hari ke tiga Gili yang lebih dari 1.500 orang menjadi bukti tiga Gili banyak diminati. Namun demikian, dampak pariwisata belum benar-benar linier dengan perkembangan sektor lain.

Ia menganalogikan, dalam sebuah piramida, maka pariwisata berada di level paling atas. Selanjutnya sektor lain seperti pertanian, perdagangan, perbankan dan sebagainya mendukung sektor pariwisata. “Kami harapkan PHRI mendukung, tidak ada lagi pemilik hotel Gili beli sayur di Mataram atau mendatangkan telur dari Bali,” ujarnya mengingatkan. (ari)