Beranda Lombok Utara Ternak Liar Tiga Gili Ancam Penghijauan Lingkungan

Ternak Liar Tiga Gili Ancam Penghijauan Lingkungan

Keberadaan ternak sapi di Gili Trawangan yang dilepas dan mengancam penghijauan lingkungan di tempat ini. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Relawan lingkungan di tiga Gili mengeluh keberadaan ternak liar yang dipelihara warga tidak dikandangkan. Aktivitas ternak di lapangan dapat mengancam keberlangsungan program penghijauan yang sudah dilakukan setahun terakhir ini.

Volunteer Lingkungan Gili Trawangan, H. Malik, Senin, 20 Januari 2020 mengatakan, ternak liar di Gili Trawangan dipelihara tanpa kandang. Ternak seperti sapi dan kambing, dibiarkan berkeliaran dengan bebas. Situasi ini dapat menggagalkan program penghijauan yang dilakukan sejak setahun lalu.

“Ternak ini masalah buat kita. Sebelum tanam kita sepakat umumkan di masjid agar warga amankan ternak sampai tanggal 20 Januari ini. Kalau di atas tanggal 20 masih berkeliaran, kita anggap ternak liar dan itu bisa kita tangkap,” tegas Malik.

Malik menyampaikan, sosialisasi pengamanan ternak liar telah disebarluaskan ke seluruh warga Trawangan. Harapannya, para pemilik ternak mengamankan ternak dan mengirim kembali ke daratan Lombok.

“Setelah diamankan, ya kita jual. Saya sudah buka aturan Undang-Undang Peternakan itu, kalau sampai kita keberatan dan lapor polisi, pemilik ternak bisa kena sanksi Rp 10 juta,” tegasnya.

Untuk diketahui, kata dia, jumlah ternak di Gili Trawangan berada di angka ratusan. Ternak ini terdiri dari sapi, kambing dan kuda. Khusus untuk kuda, warga memelihara dengan sistem kandang.

Menurut Malik, perilaku budidaya ternak di Gili Trawangan ia anggap tidak masuk akal. Warga Gili yang hanya memiliki satu rumah saja, bisa mempunyai 20 ekor sapi. Sudah dipastikan pemeliharaannya tanpa kandang.

“Kalau mau normatif, pelihara ternak ya seperti di pinggir. Sapi dibuatkan kandang, diberi rumput, bukan dengan melepas secara liar seperti ini,” cetusnya.

Praktisi lingkungan yang ikut program kebersihan sampah di Gili ini menambahkan, pihaknya sudah memulai melakukan penghijauan. Melalui swadaya warga dan dukungan donatur, pihaknya memulai melakukan penghijauan. Tanaman jenis Trembesi dan Flamboyan telah dibibitkan sejak 11 bulan lalu. Saat musim tanam kali ini, sekitar 1.000 pohon berhasil ditanam secara bertahap.

Terakhir kali menanam, dilakukan pada Senin kemarin. Dimana jumlah bibit yang ditanam sebanyak 300 pohon. Pohon-pohon tersebut diharapkan akan tumbuh subur dan menghijaukan daratan Gili Trawangan di masa mendatang.

“Maka dari itu kita mengimbau kepada seluruh masyarakat melalui masjid. Karena kalau di atas tanggal 20 maka kami akan menangkap sapi liar itu. Apalagi yang punya sapi ini kurang lebih hanya 10 orang. Dan modusnya mereka punya rumah di sini tapi tidak punya kandang,” tandasnya. (ari)