Ruas Jalan Penghubung Antar Desa di KLU Terancam Amblas

Kondisi jalan Selelos di Desa Bentek yang amblas setelah diguyur hujan. Pemerintah diminta segera bergerak menyikapi ini. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Jalan Selelos Desa Bentek Kecamatan Gangga terancam amblas. Pemerintah diminta melakukan upaya tanggap untuk mengindari terjadi kerusakan lebih parah pada musim penghujan saat ini.

Salah seorang warga setempat, Wijaya kepada wartawan, Senin, 9 Desember 2019 menuturkan, ruas jalan kabupaten yang menghubungkan jalan lingkar Desa Bentek dan Desa Genggelang itu mengalami abrasi di bibir jalan. Hal itu disebabkan struktur tanah labil akibat hujan. “Amblas Sabtu kemarin setelah diguyur hujan lebat,” ujarnya.

Warga setempat meminta agar ruas jalan tersebut segera ditangani. Mengingat di titik yang sudah abrasi tidak ada penyangga sebagai penahan material. Musim hujan yang baru mulai di wilayah KLU, dikhawatirkan akan memperburuk kondisi jalan tersebut.

Sementara, Kepala Bidang Bina Marga, Dinas PUPR Lombok Utara, Kahar Rizal, ST., yang dikonfirmasi mengakui kondisi tersebut. Pihaknya bahkan sudah turun dan mengukur ruas jalan yang dikhawatirkan akan amblas.

Kahar Rizal menyebut, ruas jalan yang amblas panjangnya 10 meter, lebar 2 meter dan kedalaman 5 meter. Menurut dia, melihat dari kondisi di lapangan maka ruas jalan tersebut harus mendapat perbaikan, karena dikhawatirkan abrasi tanah akan meluas. “Memang harus segera ditangani, apalagi sekarang sudah masuk musim hujan,” imbuhnya.

Kendati demikian, penanganan jalan tidak menggunakan dana yang ada di PU, karena mekanisme APBD tidak memungkinkan untuk itu. Satu-satunya cara adalah memanfaatkan Dana Siap Pakai (DSP) atau dana cadangan yang ada di kas daerah. Pemda setidaknya masih menyimpan dana sekitar Rp 1,25 miliar untuk korban bencana yang pemanfaatannya ditetapkan melalui Status Darurat.

Dalam hal ini, Dinas PU masih harus melakukan komunikasi antar instansi terkait serta mengajukan permohonan pencairan kepada Bupati Lombok Utara melalui mekanisme yang diatur. Pihaknya optimis, pemangku kebijakan akan menyetujui, mengingat sebab kerusakan jalan lantaran faktor alam.  “Perbaikan jalan tidak bisa dilakukan hanya pada titik yang rusak. Harus ada fasilitas pelengkap yakni saluran air agar kerusakan jalan tidak terulang kembali,” tandasnya. (ari)