Bahan Baku Kosmetik dan Sabun, Minyak Cokelat Produksi KLU Diminati Pengusaha Luar

Produk minyak cokelat yang menjadi oleh-oleh khas Kampung Cokelat Desa Genggelang KLU. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Desa Wisata Desa Genggelang Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara (KLU) mulai mendapat atensi dari banyak pihak, terutama dengan hadirnya Kampung Cokelat. Produk cokelat sudah bisa diperjualbelikan. Di antara varian produk berbahan baku kakao itu, salah satu yang paling diminati adalah minyak cokelat.

Hal itu diakui pengelola gerai usaha kelompok Kampung Cokelat, Nuraini, Jumat,  15 November 2019.  Pantauan koran ini di pusat usaha Kampung Cokelat Dusun Senara, Desa Genggelang, kelompok sudah menyiapkan gerai sebagai pusat jual beli olahan cokelat. Setidaknya, tiga buah etalase memampang aneka produk cokelat berikut harganya.

Misalnya, bubuk cokelat murni 250 gramam seharga Rp 30 ribu, bubuk 500 gram Rp 50 ribu, bubuk siap seduh 150 gram Rp 30 ribu dan 250 gram Rp 30 ribu. Permen cokelat 100 gram Rp 15 ribu, minuman sachet siap seduh Rp 5 ribu/bungkus. Yang paling mahal dan spesial adalah minyak cokelat seharga Rp 175 ribu per kg.

“Yang banyak permintaan minyak cokelat, tapi kita tidak jual semua karena digunakan untuk berproduksi. Minyak cokelat ini digunakan untuk kosmetik dan bahan sabun,” ungkap Nuraini.

Menurut Nuraini, pasar produk cokelat lokal masih belum terbentuk di kalangan masyarakat lokal. Beberapa yang menjadi alasan seperti gengsi membeli produk lokal, konsumsi atau permintaan kalangan SKPD masih rendah, serta harga jual dan kemasan yang belum bersaing. Namun demikian, pada produk minyak cokelat dan cokelat roasting, Kampung Cokelat sudah mulai mendapat tawaran.

“Minyak cokelat sudah banyak dipesan, dari Bali ada. Tetapi kita tidak jual semua karena sebagian dipakai untuk berproduksi,” ujarnya.

Gerai Kuping Cokelat sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan. Mereka juga membeli produk yang sudah dihasilkan. Hanya saja, volume penjualan belum begitu besar. Dalam sebulan, kelompok bisa menghasilkan  omzet di kisaran Rp 10 juta.

Untuk menjamin keberlangsungan pasar, para pengelola Kampung Cokelat menjadikan pasar luar sebagai mitra jangka panjang. Terutama dengan permintaan minyak dan biji cokelat dari Bali. Sayangnya, mereka masih kesulitan menyediakan produk dalam jumlah besar akibat rendahnya kapasitas produksi harian.

Kelemahan lainnya, dituturkan Nuraini, cokelat yang dihasilkan sejauh ini masih lebih mudah lumer (leleh, encer).  Kondisi ini dijumpai pada produk permen. Ditengarai penyebabnya, kualitas pengepakan yang belum sempurna. “Kalau bule jarang beli permen, mereka kebanyakan beli bubuk murni dan cokelat sangrai” tandasnya. (ari)