Kampung Cokelat Lombok Utara Kembali Berproduksi

Produk cokelat yang bisa diperoleh di Kampung Cokelat Dusun Senara Desa Genggelang Kecamatan Kayangan dan bisa dijadikan oleh-oleh. (Ekbis NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB)  – Kampung Cokelat Desa Genggelang Kecamatan Kayangan Lombok Utara yang terletak di Dusun Senara, sudah mulai berproduksi kembali usai vakum dihantam gempa tahun 2018 lalu. Sejumlah varian produk cokelat sudah bisa dihasilkan. Antara lain, permen cokelat, minyak cokelat (bahan utama kosmetik), Bubuk cokelat murni, minuman cokelat, cokelat bar, hingga biji cokelat roasting.

Pembina Kampung Cokelat Desa Genggelang, Pardan, akhir pekan kemarin, mengungkapkan, kampung cokelat sudah mulai menghasilkan produk pada bulan Desember 2018. Sejak terbentuk secara resmi Maret 2018 lalu, kampung cokelat sempat vakum. Bangunan dan peralatan rusak akibat gempa, bulan Agustus 2018. Selain itu, ketersediaan air yang minim membuat kelompok tidak bisa berproduksi.

Kampung Cokelat saat ini menaungi 30 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan 20 orang Poktan, dengan luas areal penyangga dari anggota sekitar 50 hektar. Di Dusun Senara, areal perkebunan kakao warga sekitar 100 hektar lebih, dan lingkup Desa Genggelang di kisaran 800 hektar.

“Selama produksi, kami akui alat belum sempurna, packaging masih kurang, pemasaran kurang, dan mitra belum banyak. Kendala lain, bahan baku dari luar masih mahal, seperti susu sapi dan kacang mete,” ujar Pardan.

Kampung Cokelat sejauh ini berproduksi maksimal 10 kg per hari atau 300-400 kg per bulan. Rendahnya produksi disebabkan kapasitas peralatan yang dimiliki masih kecil. Namun Kelompok Kampung Cokelat sudah dijanjikan mesin untuk kapasitas produksi 50 kg per hari atau 1,5 ton per bulan. Dikarenakan kapasitas produksi rendah, bahan baku cokelat yang sudah difermentasi dijual ke Bali. Namun pada beberapa produk seperti minyak cokelat, sudah mulai mendapat penawaran dari Sumbawa dan Bali. Tiap kg minyak cokelat dihargai Rp 175 ribu.

Menurut Pardan, pemasaran produk yang diberi nama merk dagang “Datu Chocolate Lombok” – masih proses HAKI, belum banyak dikenal oleh pasar. Dibandingkan dengan merk dagang buatan pabrik, Datu Cokelat relatif lebih mahal meskipun secara kualitas lebih bagus. Kualitas Datu Cokelat diklaim unggul, sebab mempunyai kandungan lemak cokelat 60-75 persen. Dalam 10 kg bahan baku, cokelat yang dihasilkan mencapai 2 kg. Di Jember – lokasi studi banding, hanya mampu menghasilkan 1,2-1,4 kg tiap 10 kg bahan baku. Keunggulan lain, sejak proses awal, Kampung Cokelat mendoktrin anggotanya untuk tidak menggunakan pupuk kimia.

Sebagai produk unggulan Desa Wisata, Datu Cokelat sudah dilengkapi izin produksi (PIRT), hasil uji laboratorium Dikes, dan sertifikat halal MUI.

Kampung Cokelat saat ini mendapat pendampingan dari Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL), Kementerian Desa. Kampung Cokelat sendiri lahir dari pemikiran warga, di mana banyaknya bahan baku tidak diproses menjadi barang jadi. Sehingga pada 2015, warga mengajukan permohonan studi banding ke Blitar  Dari sanalah, warga termotivasi, sebab di Blitar, kelompok setempat menghasilkan produk hanya dari perkebunan yang tidak sampai 100 pohon.

Cokelat bukan barang murahan. Untuk menghasilkan permen saja, biaya yang diperlukan di atas Rp 1 juta untuk mengolah 10 kg bahan mentah. Biaya tersebut belum termasuk kemasan dan ongkos penjualan. Berkat pendampingan pemerintah pusat, kelompok saat ini mengelola aset senilai Rp 2 miliar lebih terdiri atas bangunan, peralatan dan ongkos produksi.

“Kami berencana untuk mengembangkan wisata edukasi, dari pengenalan cara menanam, proses produksi hingga menjadi cokelat. Lokasi kami sudah banyak dikunjungi, dalam satu hari weekend, kunjungan bisa mencapai 2.000 orang,” katanya.

Pardan menyebut, dari kunjungan wisatawan domestik dan mancaegara itu akan ditarik retribusi tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang. (Catatan: mengacu ke Perda No. 5 tahun 2010, tentang retribusi memasuki tempat rekreasi dan jasa wisata l, tiket wisatawan lokal Rp 2000, dan Wisman Rp 5 ribu. Pemda harus mengatur agar tidak diklaim pungli, red).

Betapa pun eksistensi Kampung Cokelat, objek wisata agribisnis ini masih bergantung dari objek wisata lain. Sebut saja, Tiu Pupus, Tiu Pituq, Air Terjun Kerta Gangga, Rumah Pohon, dan Air Terjun Tiu Prendo. Dibutuhkan satu formula yang dapat menghubungkan satu objek ke objek wisata lain. Sebab di wilayah Desa Genggelang sendiri, sampai saat ini belum tersedia lapak kuliner yang menyediakan tempat berbelanja bagi para wisatawan. (ari)