Jelang Maulid Adat, Tokoh Adat Bayan Tawarkan Solusi Atasi Limbah Proyek Masjid Kuno

Inilah limbah yang ada di depan Masjid Kuno Bayan. DPRD KLU meminta OPD memindahkan limbah di depan masjid kuno ini, karena sebentar lagi digelar maulid adat. (Suara NTB/dok)

Tanjung (Suara NTB) – Limbah proyek Masjid Kuno Bayan yang terlihat menumpuk di bahu jalan raya setempat sangat mengganggu kenyamanan pengunjung dan pengguna jalan raya. Tidak lama lagi, atau pada 13 November mendatang masyarakat adat Bayan akan menggelar ritual Maulid Adat Bayan. Limbah pun kembali jadi sorotan, bahkan sampai di meja sidang paripurna DPRD.

Pada penyampaian fraksi-fraksi DPRD KLU, Kamis,  17 Oktober 2019. Fraksi Golkar menyinggung keberadaan limbah proyek Dinas Pariwisata (Dispar) yang belakangan menjadi barang bukti kasus yang diduga penggergahan oleh masyarakat atas program daerah.

“Atas nama Fraksi Golkar, mengingatkan kepada pemerintah agar segera menindaklanjuti pemeliharaan salah satu situs budaya yang ada di Kabupaten Lombok Utara, yakni Masjid Kuno Bayan. Sampai saat ini belum dilakukan pembersihan, karena dalam waktu dekat juga akan diadakan maulid adat,” demikian tanggapan Fraksi Golkar melalui juru bicara, Debi Ariawan, S.Pd.

Menyikapi persoalan itu, tokoh adat, Kertamalip, mengungkap harapan yang sama. Pemerintah melalui OPD terkait, diharapkan segera mengambil sikap, yakni memindahkan limbah (bebatuan) bekas proyek penataan milik Dispar KLU itu ke tempat lain.

“Secara prosesi adat, limbah proyek itu tidak mengganggu jalannya ritual Maulid Adat. Tetapi kenyamanan pengunjung yang menyaksikan

acara adat pasti terganggu,” kata Kertamalip kemarin.

Mantan Kepala Desa Karang Bajo ini menawarkan solusi, yakni memindahkan bebatuan yang menumpuk di bahu jalan nasional itu dipindah ke areal bagian dalam Masjid Kuno. Letaknya di sebelah timur Masjid. Di sana, kata Kertamalip, terdapat halaman terbuka yang bisa menampung bebatuan.

Namun sambungnya, penempatan bebatuan proyek Dispar KLU itu agar diletakkan dengan ditata rapi, tidak serampangan. Secara kebetulan pula, di lokasi penempatan sementara yang disarankan terdapat irigasi yang mengalami erosi.

“Apalagi bebatuan itu menurut mereka sebagai barang bukti, bisa dipindahkan dulu di sebelah timur masjid,” imbuhnya.

Lantas apakah masyarakat adat bersedia memindahkan bebatuan? Menjawab itu, Kertamalip menyebut masyarakat adat sudah menyatakan tidak akan terlibat apalagi berurusan dengan bebatuan proyek tersebut. Maka menurut dia, OPD Pemda KLU-lah yang diharapkan segera turun tangan.

Ia beranggapan, staf-staf pada Dinas LH, Dispar atau bahkan Satpol PP serta OPD lain dapat diarahkan bergotong-royong pada Jumat pagi. Melalui.perintah atasan, ia meyakini limbah tidak akan merusak pemandangan Masjid Kuno. Sebelum OPD memindah, ia menyarankan agar masyarakat diberikan permakluman, sehingga tidak ada anggapan lain terkait bangunan baru di lingkungan Masjid Kuno. (ari)