Bau Amis Tambak Udang Dusun Lengkukun Disikapi Dinas LH KLU

Ilustrasi (Tambak Udang)

Advertisement

Tanjung (Suara NTB) – Bau amis tambak udang Dusun Lengkukun, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan disikapi Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan dan Permukiman (LH dan Perkim) Kabupaten Lombok Utara (KLU) dengan turun langsung ke lokasi, beberapa waktu lalu. Dipimpin langsung Kepala Dinas LH dan Perkim, H. Rusdi, ST., Dinas LH dan Perkim memperoleh kesanggupan dari perusahaan yang dituangkan dalam berita acara.

Kepada wartawan, Senin,  14 Oktober 2019, Rusdi melalui Kepala Bidang Penataan dan Penaatan LH, Sony Sanjaya, S.Hut., menerangkan bahwa keluhan masyarakat sudah disikapi dengan mendatangi perusahaan. Dinas LH dan Perkim KLU melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi, Camat, desa hingga aparat TNI dan kepolisian dalam mencari solusi untuk warga tersebut.

“Kita sudah dua kali menggelar rapat menghadirkan warga dan perusahaan, terakhir pada 7 Oktober lalu. Sehingga diperoleh kesepakatan yang dituangkan dalam berita acara,” ujar Sony.

Sebagaimana berita acara klarifikasi PT. Penen Berkat Sejahtera Bersama (PBSB), terdapat 8 poin penjelasan perusahaan. Pertama, pihak perusahaan sudah melakukan pertemuan dengan RT dan kepala dusun setempat untuk mendengar keluhan warga terhadap bau tidak sedap, mual muntah, sesak nafas dan nyamuk yang diduga berasal dari IPAL, serta nelayan yang kesulitan menangkap ikan akibat tambak.

Kedua, sumber bau diketahui berasal dari endapan atau hasil sedimentasi proses pengolahan limbah cair yang terkena sinar matahari, sehingga menghasilkan gas amoniak yang menimbulkan bau tidak sedap. Ketiga, radius bau berkisar 50-100 meter dengan penyebaran bergantung arah angin.

Ke empat, bau amis disikapi oleh perusahaan dengan melakukan penanganan melalui, pemberian bakteri pengurai sedimentasi, pengenceran air, pemberian kincir (masih proses setting), pemberian deogone, dan pemberian kapur aktif.

“Untuk keluhan warga yang sakit, pihak perusahaan telah menyanggupi untuk membantu biaya pemeriksaan dan pengobatan warga yang diduga sakit akibat bau IPAL,” sebut Sony merujuk berita acara.

Selanjutnya, pihak perusahaan melakukan pengelolaan limbah cair, di mana untuk sementara ini masih berupa pengendapan/sedimentasi. Perusahaan juga masih menunggu standar IPAL yang sesuai dari Dinas LHK Provinsi NTB.

“Terkait CSR, pihak perusahaan sudah memberikan CSR di antaranya berupa bantuan pascagempa, sumbangan pembangunan pagar masjid, santunan ke anak yatim di dusun Lengkukun, pemberian masker sesual permintaan warga dan beberapa sumbangan lainnya,” tambah Sony.

Tidak hanya itu, Dinas LHK Provinsi NTB juga memberi saran dan masukan kepada perusahaan. Provinsi meminta agar pembuangan air ke laut dibuat per trap, misalnya setiap 50 menit. Tujuannya adalah memperlambat aliran air, karena dengan semakin lambat waktu tempuh, akan semakin bagus, dan proses sedimentasi akan semakin optimal.

Pihak perusahaan diharuskan untuk melakukan uji kualitas outlet setiap 6 bulan sekali atau pada saat akan melakukan pelaporan semester. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah kualitas air yang keluar dari outlet sudah sesuai standar baku mutu atau tidak.

Menyangkut warga, Pemprov NTB meminta agar dilakukan pendataan rutin kepada warga atau msyarakat sekitar yang diduga terdampak dan bekerjasama dengan puskesmas untuk melakukan pengecekan kesehatan bagi warga yang diduga mengalami mual, muntah dan sesak akibat bau IPAL.

“Untuk CSR disarankan diberikan dengan kuantitas yang lebih besar kepada Dusun Lengkukun, karena merupakan dusun yang paling dekat dengan tambak udang, serta pada saat pemberian CSR sebaiknya diberikan kuitansi,” pungkas Sony. (ari)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.