Soal Calon Wakil, Djohan Sjamsu Syaratkan Figur yang Paham Kondisi Daerah

Bakal Calon Bupati KLU,  H. Djohan Sjamsu (Suara NTB/ari)

Advertisement

Tanjung (Suara NTB) – Peran wakil bupati dalam mendampingi bupati pada satu periode pemerintahan, sangat krusial. Namun kerap kali, paket bupati dan wakil bupati terjebak oleh disharmoni karena berbagai alasan. Hal itu tidak diinginkan H. Djohan Sjamsu, SH., pada pilkada Kabupaten Lombok Utara (KLU), sehingga ia mensyaratkan bakal calon wakil yang mampu, paham kondisi masyarakat dan siap membangun harmoni selama periode pemerintahan.

Usai meresmikan Klinik Muhammadiyah Kabupaten Lombok Utara (KLU), Rabu,  9 Oktober 2019, Djohan Sjamsu kepada wartawan mengakui bersikap selektif dalam memilih calon pendamping di Pilkada 2020. Terlebih lagi, banyak tokoh masyarakat yang secara langsung memintanya maju sebagai penantang petahana, Dr. H. Najmul Akhyar.

“Yang paling berat besok, siapapun yang jadi bupati, ada dua hal. Pertama harus menata kembali pemerintahan, karena Anda lihat sendiri bagaimana kondisi sekarang,” ujarnya.

Beberapa nama yang dicuatkan menjadi pendamping Djohan, seperti Narsudin, S.Sos (Ketua Komisi III DPRD KLU), ia belum mau berspekulasi. Baginya, figur bakal calon sudah dikantongi beberapa nama. Hanya saja, pihaknya ingin nama yang terbaik dan benar-benar sesuai dengan keinginan masyarakat.

Untuk menentukan calon pendamping, Djohan menyatakan sedang menggodok melalui survei. Ia tidak ingin gegabah memutuskan figur, namun tidak disegani oleh masyarakat.

Terpenting, kata dia, calon wakil bupati paham terhadap tupoksi dan kewenangannya sebagai wakil bupati nantinya. Sebisa mungkin, antara bupati dan wakil bupati tetap bersinergi satu sama lain, dan membangun komunikasi yang baik demi kemajuan masyarakat dan daerah.

“Dan kriteria yang bagus itu, tentu yang bisa memimpin daerah ini, bisa menjalankan pemerintahan dengan baik, dan bisa bekerjasama dengan bupati, itu yang terpenting,” katanya.

“Kaitannya dengan Narsudin, saya sih positif-positif saja. Karena memang kalau ada yang menginginkan pimpinannya menjadi wakil Bupati, itu sah-sah saja itu. Tapi tentunya saya ingin melakukan ini melalui proses survei, bagaimana dia ke depannya jika dia sebagai wakil bupati,” sambungnya.

Di samping figur calon wakil, Djohan Sjamsu yang saat ini bermodalkan 3 kursi dari Fraksi PKB di DPRD, masih kekurangan 3 kursi lagi. Memenuhi syarat 6 kursi sebagai pengusung paket calon, PKB terus menjalin komunikasi politik dengan sejumlah parpol. Djohan mengusung konsep sama dengan bakal calon lain, bahwa sebisa mungkin, koalisi parpol berisikan banyak parpol. Tidak hanya banyak jumlah, tetapi juga parpol-parpol yang mengusung dan mendukung nanti punya visi yang sama, dan peka terhadap kondisi rakyat khususnya pascagempa.

“Kita ingin kembalikan marwah KLU ini seperti awal kita bentuk dulu, yakni percepatan pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, itulah keinginan kita dulu memekarkan KLU in,” ujarnya. “Masih banyaknya PR di KLU ini, mendorong saya untuk kembali maju. Dan kalau sudah ada orang yang berani dan mampu bertindak adil membangun KLU ini, saya akan mundur. Tapi inikan belum ada yang berani untuk itu,” tambahnya. (ari)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.