Tak Sesuai Spesifikasi, RTG Pokmas Telok Kodeq Dibangun Ulang

Kondisi rumah yang dibangun di Kecamatan Pemenang yang dipermasalahkan korban gempa, karena tidak sesuai spek. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Anggota kelompok masyarakat (pokmas) 14 Dusun Telok Kodeq, Desa Malaka Kecamatan Pemenang, akhirnya bisa bernafas lega. Keluhannya terhadap kualitas Rumah Tahan Gempa (RTG) yang tidak sesuai spesifikasi ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kecamatan dengan keputusan konstruksi rumah dibangun ulang.

Camat Pemenang, Suhadman, S.Sos., kepada Suara NTB, Minggu, 28 Juli 2019 mengungkapkan, pihaknya sudah memfasilitasi pertemuan antara warga (pokmas), TPK Provinsi, Kades Malaka, Kepala Dusun Telok Kodeq. Di samping itu, dihadirkan pula aplikator PT. Merah Putih Alam Lestari, LSM Aliansi Masyarakat Peduli Lombok Utara (AMPELU) yang mendampingi warga, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

“Hasil pertemuan pada intinya memutuskan, aplikator PT. Merah Putih bersedia memperbaiki/membongkar rumah yang tidak sesuai dengan spek,” kata Suhadman.

Ia menyebut, apabila di kemudian tsedapat keluhan menyangkut kualitas RTG, maka akan diselesaikan dengan musyawarah di tingkat bawah. Musyawarah tentunya melibatkan kepala dusun, pokmas dan aplikator.

“Bahkan keputusan itu, semua tertuang dalam Berita Acara rapat yang dihadiri oleh LSM AMPELU,” imbuhnya.

Sementara itu, aktivis AMPELU, Wira Maya Arnadi, mengamini pihaknya pada pertemuan tersebut

meminta kepada Pemerintah Lombok Utara untuk tegas memberi pengawalan kepada warga korban gempa. Pada proses rehab rekon saat ini, cukup banyak keluhan yang disampaikan warga, terutama menyangkut kualitas RTG.

Pihaknya berharap, ke depan masyarakat lebih diberikan ruang untuk menyuarakan keluhannya. AMPELU menyayangkan apabila masyarakat dengan caranya-misalnya mengunggah kualitas RTG yang buruk di media sosial, menjadi objek yang dipersalahkan. “Apalagi sampai diintimidasi untuk dikeluarkan dari anggota pokmas, itu kan tidak logis. Pokmas di SK-kan oleh bupati kok,” cetusnya.

Pihaknya berharap pula, pemerintahan di kecamatan lebih responsif mengawal isu RTG. Selain di Pemenang, diduga ada banyak kasus serupa di kecamatan lain.

Terpisah, Kepala Desa Akar-Akar, Akarman, S.Sos., melalui WhatsApp, berharap adanya pendampingan aktif saat proses pembangunan RTG. Di wilayah Desa Akar-Akar, kata dia, bukan tidak mungkin terjadi hal serupa. Rumah warga korban gempa tidak terbangun maksimal oleh motif ekonomi oknum aplikator.

“Usul saya, harus ada evaluasi fasilitator,  karena tugas mereka yang mendampingi hal teknis(seolah belum sebanding),  gaji mereka ‘kan besar,” cetusnya. (ari)