Logistik Bantuan Gempa di KLU dalam Kondisi Tidak Layak Konsumsi

Inilah logistik bantuan untuk korban gempa di KLU yang ditemukan dalam kondisi sudah tidak layak konsumsi. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Bantuan logistik kepada korban gempa di Kabupaten Lombok Utara (KLU) seharusnya sudah sampai ke sasaran  Sayangnya, pengelolaan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KLU menyebabkan sisa logistik masih menumpuk di tenda darurat. Lamanya logistik mengendap menyebabkan bau busuk di tenda darurat.

Pantauan koran ini, sejumlah logistik dari makanan bayi, beras, makanan siap saji, hingga galon air masih menumpuk dan tidak dibagikan pada saatnya. Ada pula puluhan unit Arco yang berjejer rapi dan belum dibagikan kepada masyarakat.

Salah seorang anggota Dewan KLU, M. Hilmi, adalah pihak yang mengajak awak media menginspeksi tenda darurat tempat penyimpanan logistik. Tenda di depan kantor sementara Inspektorat KLU itu, sejak awal merupakan titik pengumpulan logistik bantuan dari seluruh donatur korban gempa.

Saat pintu tirai tenda dibuka, bau busuk menyengat seketika tercium. Bau itu berasal dari beras dan berbagai jenis makanan cepat saji yang berjamur dan membusuk. Logistik yang sangat dibutuhkan oleh korban gempa itu pun terasa sangat mubazir, karena tidak dibagikan tepat pada waktunya.

Usai dicek pada tanggal kedaluwarsa bergambar jenis makanan bayi, ternyata masih bisa dimanfaatkan. Ada produk yang kedaluwarsa Desember 2019 hingga awal 2020. Hal itu pun menimbulkan kemirisan tersendiri di kalangan dewan. “Seharusnya logistik ini dibagikan semua. Buat apa ditumpuk di sini sampai membusuk?” cetus Hilmi.

“Saya ‘kan butuh Arco, kenapa tidak dibagikan saja. Kalau boleh minta, saya mau ambil satu,” sambung  anggota dewan lain, Ardianto.

Dikonfirmasi mengenai hal itu, Kepala BPBD KLU, H. Muhadi, SH., Kamis (18/7) mengklaim bantuan yang masih mengendap di tenda logistik merupakan bantuan lama. Bantuan sejatinya sudah dikirimkan ke masyarakat. Namun diakuinya, diantara logistik masih ada sisa bantuan yang tidak bisa dikirim karena berbagai pertimbangan.

“Jadi ini ‘kan semua bantuan yang sudah dari dulu, seperti bahan makanan ada memang sisa-sisa beras yang terendam, dan itu tidak mungkin kita berikan ke masyarakat,” katanya.

Terhadap sisa bantuan logistik itu, Muhadi mengatakan akan diproses melalui mekanisme penghapusan sesuai aturan yang ada. Bantuan itu sendiri tidak mungkin dibagikan ke masyarakat, karena kondisinya rusak, baik dari bungkus, maupun isi.

Persoalan bahwa bantuan ini tidak disalurkan ketika itu,  Muhadi membantah. Kerusakan logistik diakibatkan oleh tumpukan logistik yang banyak, sehingga logistik paling bawah rusak dan tersortir, sehingga tidak dibagikan.

“Jadi memang yang ada di situ sisa sisanya, karena kemarin memang juga ketika terjadi hujan lebat, (logistik terendam) itu yang paling dahsyat. Tidak mungkin kita bisa pindahkan bantuan itu di tenda, karena numpuk. Jadi itu yang ada di sana itu, sisanya, dan itu bukan kesengajaan.Karena pada saat itu kita tidak punya gudang,” tandasnya. (ari)