Warga KLU Kembalikan Cadangan Air dengan Reboisasi Kali

Untuk mengembalikan cadangan air di sungai, warga di Dusun Lokoq Meang, Dusun Luk, Desa Samik Bangkol, Kecamatan Gangga, inisiatif melakukan penghijauan di bantaran sungai. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Kekeringan di sejumlah wilayah di Kabupaten Lombok Utara (KLU) tidak lepas dari kondisi lingkungan yang miskin pepohonan. Tidak heran, cadangan air merosot, tak terkecuali di bantaran sungai.

Sadar akan hal itu, kelompok masyarakat di Dusun Lokoq Meang, Dusun Luk, Desa Samik Bangkol, Kecamatan Gangga, inisiatif melakukan penghijauan. Reboisasi itu dilakukan dengan dukungan bibit dari Dinas LH PKP Lombok Utara.

Pegiat Lingkungan, Hasupan, mengatakan, warga sudah sejak lama berkeinginan untuk reboisasi bantaran sungai atau Kali Dusun Luk. Hanya saja, keinginan mereka terganjal, karena tidak adanya bibit, baik pepohonan maupun bibit tanaman buah-buahan.

Kali ini hajat warga tercapai, usai proposal permintaan bibit warga sejumlah 1.000 diterima oleh Dinas LH. Dari 1.000 bibit yang diajukan, kelompok masyarakat tidak mengetahui jumlah persis yang dikucurkan. Dari proposal saja, warga meminta bibit berbagai jenis, seperti tanaman klengkeng, matoa, nangka kulit, bambu petung dan pohon beringin.

“Alhamdulillah, sebanyak 40 kelompok masyarakat Lokok Meang sudah menanam seluruh bibit pada Selasa pagi,” katanya.

Masyarakat kata Hasupan, menyesuaikan titik penanam dengan jenis bibit yang ada. Untuk tanaman buah, mereka tanam di pekarangan rumah dan kebun. Sedangkan bibit lain, ditanam di sepanjang bantaran Kali Lokok Meang.

Warga mempertimbangkan penanaman bibit kayu dan bambu peringatan di bantaran sungai, karena hawanya masih sejuk. Meski cuaca cukup kemarau, mereka optimis tanaman tidak akan mati. Berbeda dengan tanaman buah, warga akan mendukung dengan mengoptimalkan pemeliharaannya. “Bantaran kali yang kami tanami sekitar 1 km. Kami berharap bibit ini tumbuh dan kelak menyimpan air,” sambungnya.

Bambu Petung menjadi satu prioritas bibit pada proposal warga. Pasalnya, tanaman bambu jenis ini sudah mulai langka. Selain itu, pemanfaatannya mendukung konstruksi perumahan warga yang mengadopsi kearifan lokal. Harapan warga, saat bambu petung ini tumbuh besar, warga sudah bisa memanfaatkan secara ekonomi.

Selain harapan hidup tanaman, warga juga memilih menanam di lokasi kali, karena alasan lingkungan. Setiap tahun, Kali Luk mengalami abrasi. Areal kebun warga di sekitarnya sedikit demi sedikit mengalami erosi akibat luapan air bah saat musim hujan. “Kita juga minta beringin, karena untuk air ini kita kekurangan. Jadi untuk antisipasi resapan air, kita butuh beringin,” katanya. (ari)