ACT Bantu Pasien Bayi Tanpa Anus

Orang tua Neng Bilqis Quraini, Bahri (tengah) menerima bantuan dari pihak ACT untuk biaya selama operasi di RSUP NTB, Kamis,  27 Juni 2019. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Kelahiran Neng Bilqis Quraini (4 bulan) tanpa anus menyulut atensi pegiat sosial. Dari kalangan lembaga sosial, Aksi Cepat Tanggap (ACT) tercatat merupakan donatur pertama sejak keberadaan pasien mencuat di media.

Penangggung Jawab Program Kemanusiaan ACT NTB, M. Romi Saefudin, di kediaman keluarga Samsul Bahri dan Rina, menyebut bantuan sosial yang diberikan kepada pasien Bilqis merupakan implementasi dari program Pasient MRS kepada balita korban gempa KLU yang lahir tanpa lubang anus.

“Alhamdulillah hari ini tim Sosial MRI NTB memberikan bantuan biaya santunan kepada adik Bilqis untuk biaya persiapan operasi bulan Juli mendatang,” kata Romi, Kamis,  27 Juni 2019.

Ia mengaku, ACT mengetahui keberadaan pasien Bilqis dari media. Koran ini pun langsung dikontak oleh ACT pascaberita mencuat pada Senin (24/6). Di kediaman orang tua Bilqis pula, ACT mengorek informasi terkait keberadaan pasien dan orang tuanya. ACT juga menghimpun data keluarga untuk selanjutnya dikirim ke ACT pusat maupun relasi dari berbagai donatur di Indonesia. Harapannya, dari informasi ACT tersebut terdapat respons yang dapat mengurangi beban keluarga.

“Kami baru mengetahui pembayaran pengobatan pasien menggunakan SKTM (dibiayai Pemda melalui program KLU Sehat, red) karena tidak memiliki BPJS,” sambungnya.

Kepada pihak keluarga, ACT memberikan donasi berupa uang tunai. Oleh pihak keluarga, bantuan tersebut diakui sangat berarti. Pasalnya keluarga sangat membutuhkan dukungan biaya untuk kebutuhan transportasi kontrol perawatan dari KLU ke Mataram setiap pekannya. “Kami berterima kasih banyak atas bantuan dari ACT,” kata Rina merespon bantuan tersebut.

Sementara Bahri, suami Rina menyebut masih ada dua tahap operasi lagi yang harus dilalui anaknya. Operasi kedua akan dilakukan pada bulan Juli mendatang. “Sabtu (besok) akan dilakukan kontrol dulu untuk mengetahui kondisi Bilqis, sekaligus ditetapkan jadwal operasinya,” kata Bahri.

Pihaknya tak menyangkal, sebelum mendapat bantuan dari donatur, ia mengupayakan biaya transportasi dan membeli keperluan lain dari pinjaman sebesar Rp 1,5 juta. Sementara biaya kontrol tiap pekan, didapat dari hasil buruh pemecah batu. “Kalau kontrol ke Mataram, kami berangkat pagi. Kadang setelah Salat Subuh kami jalan menggunakan sepeda motor,” tutupnya. (ari)