Petani Jagung Keluhkan Sulitnya Dapat Pupuk

Ilustrasi Pupuk (suarantb.com/dok)

Tanjung (Suara NTB) – Petani jagung di wilayah Kecamatan Bayan masih kesulitan mengakses pupuk bersubsidi. Petani memberanikan diri meminjam di bank, dan membeli pupuk sampai ke wilayah Lombok Barat (Lobar).

Hal itu diakui salah satu petani, asal Sukadana, Sapdanom alias Edi, Senin,  24 Juni 2019. Mantan Ketua Poktan Pade Angen, Sukadana ini mengaku distribusi pengelolaan pupuk belum memuaskan sebagian besar petani. Edi, bahkan kesulitan memperoleh pupuk dalam jumlah cukup sejak ia menjadi pengurus poktan.

“Kami khususnya di Kecamatan Bayan, sebagai petani masih kesulitan (akses pupuk). Prosesnya, kelompok yang mengajukan melalui RDKK terus disampaikan ke dinas dan disalurkan sesuai kebutuhan. Tapi sekarang karena kita sudah keluar, tidak bisa,” ujarnya.

Edi juga menuding, alokasi pupuk di lapangan dikuasai oleh segelintir oknum. Ia bahkan tidak ragu menyebut keterlibatan rentenir dalam proses perpindahan pupuk sampai ke tangan petani. Jikapun pupuk tersedia, maka masih harus ditebus dengan harga mahal.

Satu contoh, pengalamannya membeli pupuk pada musim

tanam yang lalu. Pupuk urea per kuintalnya ia beli seharga Rp 190 ribu. Pupuk jenis ZA, seharga Rp 150 ribu, dan NPK Rp 230 ribu.

“Sedangkan kebutuhan kita, kalau menanam jagung seluas 5 hektar seperti saya kemarin, kita harus membutuhkan pupuk sebanyak 3 ton dengan jarak tanam 21 cm x 70 cm. Tapi di lapangan, malah saya butuhkan 5 ton. Jadi mau gak mau kita harus ke rentenir untuk mencarinya, mau tidak mau ‘kan, kalau tidak kasihan tanaman kita,” keluhnya.

Selama budidaya jagung, Edi mengaku mengakses penjual pupuk di salah satu UD. Sebab di distributor lapangan, hanya mengakomodir RDKK kelompok. “Lantas apakah yang tidak masuk di RDKK akan ditindas gitu?”  tanyanya.

Ia berharap Pemda melalui dinas terkait lebih keras lagi memperjuangkan pupuk untuk petani. Pemda diminta pula untuk membantu petani dengan membayar subsidi kepada petani untuk meringankan biaya produksi.  “Dampak produksinya per tahun pasti ada, karena produksi jagung tidak tergantung cuaca, tetapi juga pupuk,” tandasnya. (ari)