Balita Tanpa Anus di KLU Butuh Dukungan Biaya Operasi

Ning Bilqis Quraini, bayi yang terlahir tanpa anus ini menangis saat digendong ibunya. Orang tua butuh dukungan donatur untuk biaya operasi di rumah sakit. (Suara NTB/ari)  

Tanjung (Suara NTB) – Ning Bilqis Quraini (4 bulan) terlahir tanpa anus. Tak adanya saluran pembuangan layaknya bayi lain, membuat keluarganya kelimpungan. Ning – sapaan akrabnya harus dibuatkan saluran pembuangan dengan cara operasi.

Ning adalah anak kedua pasangan Samsul Bahri dan Rina, warga Dusun Sembaro, Desa Persiapan Segara Katon, Kecamatan Gangga. Lahir 28 Februari 2019 lalu di RSUD Tanjung, Ning mengidap kelainan, yakni lahir tanpa anus.

Saat lahir, berat badan Ning, normal. Kesehariannya pun berjalan seperti biasa. Ia tersenyum saat dihibur. Hanya pada pembuangan kotoran yang membuat orang tuanya prihatin, karena tidak punya anus, bayi mungil itu sebelum dioperasi terpaksa mengeluarkan kotoran dari saluran kencing.

Saat usianya 2 bulan, Ning mulai mendapat penanganan. Berbekal Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Bahri dan istri mengakses KLU Sehat – program jaminan kesehatan yang dikeluarkan Pemkab Lombok Utara.

Ning pun dioperasi di RSUP NTB. Meski biaya operasi gratis, namun pihak keluarga masih kesulitan biaya. Beban hidup sehari-hari selama di rumah sakit, biaya obat yang harus ditebus dari apotek luar rumah sakit, serta perkakas bayi seperti popok, hingga plastik penampung kotoran harus dibeli. Biaya-biaya itu tidak masuk dalam program pemerintah.

“Saat operasi pertama, kami memberanikan diri meminjam dari keluarga sebesar Rp 1,5 juta. Dana itu yang kami gunakan untuk biaya sehari-hari selama di sana,” kata Rina, Senin (24/6).

Operasi pertama Ning berjalan sukses. Ia dibuatkan saluran pembuangan kotoran di bagian perut samping kiri. Sejak itu Ning tidak lagi membuang kotoran keras dari saluran kencing.

Orang tua Ning masih harus berpikir keras. Karena tidak hanya biaya operasi berikutnya, mereka juga masih harus memikirkan biaya untuk keperluan kontrol. Setiap pekan, kondisi Ning harus dikontrol dokter RSUP. Dengan keterbatasan dana, orang tua Ning kadang hanya mencukupkan biaya transportasi (bensin) untuk sampai di RSUP. Selain itu, tidak mereka pikirkan.

“Bulan Juli nanti jadwal operasi kedua. Kami bingung dari mana dapat dana. Apalagi operasinya dilakukan sampai 3 kali,” ujarnya.

Keluarga ini pun berharap, adanya bantuan dari pihak lain. Mengingat kondisi keluarga tidak memungkinkan. Samsul Bahri diketahui berprofesi sebagai buruh harian. Pekerjaannya saat ini, memecah material batu kiriman aplikator untuk membangun pondasi rumah tahan gempa. Pekerjaan ini dilakoni dengan serius. Harapannya uang sudah terkumpul dalam jumlah cukup sampai tiba jadwal operasi bulan Juli mendatang. (ari)