Tiang Goyang dan Rapuh, Pokmas Pade Patuh Tuntut Bangun Ulang RTG

Salah satu bentuk tiang yang dirobohkan pemilik RTG. Tampak, bagian tiang beton yang campurannya tidak maksimal. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Problem rumah warga korban gempa seolah tak kunjung selesai akibat  sejumlah oknum aplikator yang terlibat membangun rumah warga. Akibat campuran beton dan pemasangan besi yang diduga tidak sesuai spek, tiang-tiang konstruksi rumah warga goyang berayun saat digoyang. Ada pula beton rumah warga yang keropos, dan material berserakan saat dicongkel dengan jari.

Pemandangan ini terlihat di rumah milik sejumlah warga di salah satu Pokmas Pade Patuh Dusun Bale Dana Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang. Dari kiriman video yang diterima koran ini, satu rumah warga keropos di bagian bawah tiang persis di atas pondasi. Saking kecewa, pemilik rumah sengaja merekam dirinya sedang mencongkel beton yang sudah mengering itu. Ironi, beton dengan mudah berserakan.

Di video lain, ada juga warga yang sengaja mendorong kontruksi tiang bangunan yang sudah mengering. Lagi-lagi, seluruh tiang bangunan rumah warga berayun dengan santai mengikuti dorongan tangan pemilik rumah.

Ibu Sumida, pemilik rumah yang tiangnya bergoyang itu menduga, rumah RTG-nya tidak ditangani dengan baik oleh tukang. Sejak pengecoran pada bulan puasa lalu, ia dan suami amat kaget, karena konstruksi beton tidak berdiri kokoh.

“Puasa dicor ini, terus dia buka (papan pagesting). Setelah kering tiang didorong-dorong, tahunya semua tiang bergoyang,” ujar Sumida, kepada wartawan Minggu, 23 Juni 2019.

Mengetahui kondisi itu, warga kemudian melapor ke pengurus dan aplikator, sekaligus menuntut pergantian seluruh tiang kepada aplikator. Anehnya, menurut Sumida, aplikator hanya sanggup mengganti (rekonstruksi ulang) satu tiang saja.

“Sudah (lapor ke BPBD), dan BPBD minta harus diganti. Kalau tidak, tidak dicairkan, tidak mau diterima. Tidak ada sih yang mau terima kalau begini.” “Ya kita tetap minta diganti, semuanya ganti biar utuh. Masa cuma satu yang diganti,” katanya lagi.

Tokoh masyarakat sekaligus anggota Pokmas Pade Patuh Bale Dana, Asmadi, mengungkapkan sewajarnya aplikator mengganti seluruh konstruksi rumah warga apabila dinyatakan tidak memenuhi syarat RTG. “Ini kan rumah masyarakat, kalau masyarakat merasa keberatan, suka tidak

suka harus dibongkar lagi. Harapan saya harus dibuatkan (ulang) lebih kuat lagi,” katanya.

Perihal pengawasan terhadap pembangunan rumah warga, Asmadi menyebut pengawas dari fasilitator sudah turun. Sekali momentum, ingat Asmadi, petugas fasilitator mengecek dengan mencabut besi angkur. Karena pemasangan besi keliru, fasilitator pun meminta dibongkar dan dikerjakan ulang. “Namun setelah dikerjakan lagi, sudah mulai tidak ada pengawasan,” imbuhnya.

Rendahnya pengawasan fasilitator maupun pengawas proyek dari aplikator, diduga menjadi sebab akibat rendahnya kualitas RTG Pokmas Pade Patuh. Sebab tidak hanya persoalan kualitas, percepatan juga terhambat. Terbukti di kediaman milik Asmadi, pekerjaan yang sudah berjalan 4-5 bulan, baru mampu menyelesaikan pondasi dan konstruksi tiang bangunan saja. Tidak ada penembokan ataupun pemasangan atap.

Menyikapi persoalan di anggota Pokmas, Ketua Pokmas Pade Patuh, Mabhur, mengaku dari hasil pengawasannya pekerjaan aplikator berjalan wajar, dari rumah anggota yang satu ke anggota lain di kelompoknya. Hanya saja, kata dia, persoalan tiang rumah goyang dan konstruksi labil, tidak ia ketahui.

“Dan ini seharusnya kita juga diberitahu ketika ada persoalan. Padahal dari pihak tukang maupun fasilitator, ketika ada persoalan atau komplain, mau diubah atau diapakan ‘kan siap.” “Dan saya lihat, pihak ketiga mau bertanggung jawab, dan bahkan aplikator sudah melarang (tukang) untuk dilanjutkan,” klaimnya lagi.

Selaku Ketua Pokmas, Mabhur menegaskan bahwa aplikator tetap berpegang pada komitmen awal. Di mana konstruksi akan diperbaiki apabila tidak memenuhi syarat RTG. “Dari aplikator dan tukang tetap (berkomitmen). Kemarin juga mau diubah, atau mau dipasangkan pilarnya lagi, sementara dia (pemilik rumah, suami Sumida karena bekerja di Gili, red) tidak ada di sini. Dan dia hanya main telepon lewat tetangganya, disarankan tidak usah dilanjutkan katanya. Karena kita juga tidak ada (hubungan) apa-apa, makanya kalau ada komplain, silakan mari kita rembug,” papar Mabhur.

“Karena kita juga korban, rumah ini juga termasuk telat (pembangunan). Ini sudah termin kedua, dan masih berjalan,” pungkasnya. (ari)